Friday, September 15, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (5-habis)

Jimmi yang Takut Bento
KABUT
putih menghalangi pandangan kami saat melihat Gunung Beratus dari kejauhan. Tetapi itu tak berlangsung lama, perlahan kabut mulai menipis dan menegaskan lekuk-lekuk kontur Gunung Beratus yang tampak berwarna biru keabu-abuan. Di kaki pegunungan Beratus yang mempunyai ketinggian sekitar 900 m dpl, disitulah letak camp hutan lindung Beratus milik Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Balikpapan yang menjadi tujuan kami. Hawa segar langsung menyergap hidung ketika kaca mobil dibuka. Saat itu pukul 14.30, saat sebenarnya siang memberikan panas yang lumayan menyengat. Tetapi pepohonan menutupi matahari, sehingga hanya terpaan sinarnya saja yang terasa.

Di camp ini, terdapat beberapa penjaga yang mengawasi habitat orangutan yang telah dilepasliarkan BOSF sejak tahun 1998-2002. "Ada sekitar 300 orangutan di sini, semuanya hasil reintroduksi di Samboja Lestari," ujar Herman, staf Geographic Information Systems BOSF. Sebelumnya, di hutan lindung ini memang tak terdapat orangutan, karena itu menjadi tempat yang dipilih BOSF untuk melakukan pelepasliaran. Pasalnya, syarat utama melakukan pelepasliaran adalah tidak ada habitat orangutan sebelumnya.

"Mereka akan kalah dengan orangutan yang telah tinggal sebelumnya, makanya kami harus mencari tempat yang benar-benar kosong untuk me-release (lepasliarkan-red) orangutan baru," tambah Program Manager BOSF Aldrianto Priadjati. Tetapi yang menjadi masalah saat ini, tidak adanya tempat yang aman untuk melepasliarkan orangutan karena kondisi hutan yang semakin rusak. Menurut dia, ancaman terbesar populasi orangutan di Hutan Lindung Beratus sendiri yakni adanya pembalakan dan perburuan liar. Seperti yang kami lihat sendiri ketika melakukan perjalanan menuju ke kawasan ini. Hutan semakin gundul karena adanya penebangan liar dan kondisi ini akan membuat orangutan semakin terdesak karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.

"Populasi orangutan sekarang di Kalimantan tinggal 38.000 ekor saja karena ancaman tersebut. Di BOSF saja terdapat ratusan orangutan yang sebenarnya sudah bisa dilepasliarkan tapi tidak bisa kami lakukan karena tak ada tempat yang aman untuk mereka. Kalau tempatnya habis ya tidak tahu lagi harus ditaruh di mana mereka," terang Aldrin.

Alih-alih ingin disambut sekelompok orangutan ketika kami datang ke camp, ternyata suasana sangatlah sunyi. Pohon-pohon besar yang ada di situ seakan merangkum keheningan. Sungai Bongan membelah hutan menjadi dua, di atas sungai yang membentang, terdapat tali baja dengan sebuah kotak besi yang berfungsi sebagai troli penyeberang. Sementara itu di beberapa pohon besar, terdapat sulur-sulur yang terbuat dari dahan. "Itu sarang orangutan, mereka membuatnya sendiri. Jadi untuk bergerak dari satu pohon ke pohon lain, lewat sulur tersebut. Tidak selalu kita bisa melihat orangutan di sini, sebab mereka sudah menyebar ke dalam, kalau kebetulan mungkin," papar Herman.

Perasaan hati agak kecewa, tapi untunglah tak berlangsung lama. Sebab tiba-tiba, dengan langkah tergopoh-gopoh, datanglah Jimmi, seekor orangutan yang berusia dua tahun. Dengan wajah memelas ia berusaha mendekati kami. Ia celingukan, melihat sesuatu yang mungkin saja bisa dimakan. Tetapi oleh penjaga, Jimmi diusir tak boleh mendekati kami, dan kami pun dilarang pula untuk memberi makanan. "Jika ia dekat dengan manusia dan masih diberi makan, nanti ia tidak mandiri lagi. Sebab, kalau lapar, ia akan terbiasa ke sini, dan itu berarti program pelepasliaran tidak berhasil," tutur seorang penjaga camp. Alhasil, Jimmi hanya berjalan dan duduk dalam jangkauan 10 meter dari kami. Di bawah parabola, ia termangu, kadang-kadang menggaruk-garukkan tangannya yang panjang ke kepala atau badannya. Sesekali menguap, mungkin bosan tidak bisa bergabung dengan kami.

Lantas, Jimmi berusaha mengabaikan larangan penjaga, dengan langkahnya yang lambat, ia berusaha mendekat. "Jimmi ada Bento tuh," teriak penjaga. Sontak, ia mengangkat kedua tangannya, menengok ke belakang tubuhnya, dan berseru khas, "Uueeeghhhhh...," lalu duduk terdiam tak berani mendekat lagi. Siapa Bento? Ternyata nama yang diadopsi dari salah satu judul lagu Iwan Fals ini merupakan nama orangutan yang ditakuti, alias premannya orangutan di hutan lindung Beratus ini. Ada-ada saja, orangutan pun punya jagoan juga rupanya. Kami terkikik geli, sangat lucu menyaksikan tingkah-polah orangutan yang mempunyai tingkat intelegensi tertinggi dibandingkan hewan lain.

Kendati demikian, dalam benak tersimpan pertanyaan, akankah satwa langka primata ini bisa hidup panjang dan berkembangbiak seperti sebelumnya mengingat kondisi hutan lindung Beratus yang semakin rawan? [tre]

wrote on February, 2005.



Menengok Hutan Lindung Beratus (4)


Pembalakan Liar, Seperti Gajah di Pelupuk Mata
FORD ranger berjalan zig-zag, tanah merah yang basah karena hujan semalam menempel tebal di keempat roda mobil. Perjalanan yang berat harus kembali kami tempuh, lebih berat dibanding perjalanan awal. Menuju Hutan Lindung Beratus, jalan yang kami lewati hanya satu-satunya karena merupakan jalan logging milik PT ITCI. Kadang, jalan begitu sempit dengan jurang di kanan kiri, kerap juga tanah berlubang begitu besar sehingga membuat celah seperti anak sungai tanpa air dengan dasar yang dalam. Untuk melewatinya, hanya terdapat dua bilah papan terpasang yang berfungsi sebagai jembatan.

Sering kali di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan mobil pick up atau truk yang terperosok karena jebakan tanah becek. Bahkan iringan truk sempat terhenti lama karena ada satu truk yang tak bisa melewati jalanan itu dengan mulus. Melihat truk-truk yang hilir mudik membuat perasaan jadi miris. Dalam hitungan tak lebih dari satu jam, berpuluh-puluh truk yang mengangkut kayu terus melaju dengan bebas. Diperkirakan, satu truk bisa memuat delapan kubik kayu ulin. "Dengan adanya jalan logging yang dibuka PT ITCI, justru membuka akses lebih luas bagi pelaku illegal logging," tutur Analiza, aktivis lingkungan, mantan Outreach Education dari Nature Resources Management (NRM) Kaltim.

Tak bisa dipungkiri, tampaknya kegiatan pembalakan liar begitu nyata di sini. Seperti tak tersentuh hukum. Padahal, dalam lingkup yang lebih luas, janji 100 hari pemerintahan SBY-Kalla adalah pemberantasan illegal logging, yang kemudian diteruskan kepada para menteri terkait seperti Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, juga aparat kepolisian. Bahkan, pada saat kunjungan ke Kaltim Desember tahun lalu, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar menyatakan dengan tegas akan mencopot kapolres yang tidak becus dalam menangani masalah illegal logging dengan batas waktu enam bulan. Saat itu, D'ai datang untuk melihat keberhasilan Operasi Hutan Lestari I Polda Kaltim tahun 2004 yang mendapatkan barang bukti sitaan berupa 107.336,68 meter kubik kayu berbagai jenis dan ukuran, sembilan unit ponton, 12 tug boat, tiga unit kapal, 51 unit alat berat, lima unit mobil, tujuh unit truk, dan empat unit mesin tempel dari total ditemukannya 23 kasus illegal logging di hutan Kelurahan Sotek, Kecamatan Penajam dengan 27 orang sebagai tersangkanya di Kaltim.

Tetapi, di wilayah Kutai Barat ini, terlebih di kawasan hutan yang memiliki status sebagai Hutan Lindung Beratus--didasarkan pada SK Menteri Kehutanan No 321/kpts/Menhut/11/1993 dengan luas sekitar 20.261 ha--selepas mata memandang di kanan-kiri jalan berdiri sejumlah tenda-tenda para pelaku illegal logging. Mereka mendirikan barak secara berkelompok, dan bekas-bekas penebangan tampak begitu jelas. Hutan gundul, menyisakan gelimpangan kayu-kayu yang menunggu untuk diangkut.

Bahkan, dalam perjalanan kami pun sempat terhenti karena adanya kayu ulin sepanjang lebih dari lima meter dan lebar sekitar 60 cm yang melintang di jalan, bekas ditebang. Terpaksa, kami harus menunggu kayu itu dibelah beberapa bagian agar bisa disingkirkan dari jalan tersebut. Status hutan yang dilindungi, tampaknya hanya ada di atas kertas. Sebab, ia seperti gajah yang tampak di pelupuk mata tapi sulit sekali disentuh. [tre]

Menengok Hutan Lindung Beratus (3)


Jejak Sejarah di Geleo Baru dan Tanjung Sokek

BANGUNAN itu masih berdiri kukuh, walau umurnya sudah lebih dari setengah abad. Dinding, lantai, dan undakan tangga terbuat dari kayu meranti, sedangkan tiangnya terbuat dari kayu ulin. Dari atap sirap yang tak rapat lagi, seberkas sinar matahari sore menyelusup masuk memberikan sedikit penerangan di dalam ruangan Lamin Adat yang dibangun sejak tahun 1952. Tampak beberapa patung khas Suku Dayak Luangan menghiasi ruangan tersebut. "Untuk mengusir roh-roh jahat," ucap Antonius K, Wakil Kepala Adat Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barongtongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Dengan panjang bangunan sekitar 50 meter dan lebar 20 meter, ruangan ini mempunyai enam bilik atau kamar. Menurut Antonius, Lamin Adat ini dulunya merupakan tempat tinggal petinggi desa atau kepala desa yang bernama Y Tangkas bersama keluarganya. Tetapi sejak tahun 1960-an, lamin tak didiami sebagai tempat tinggal, ia beralih fungsi menjadi tempat upacara adat bagi warga kampung. Seperti Kuangkai (upacara adat kematian untuk seorang anggota keluarga yang paling disayang), Belian (untuk membayar nazar atau penyembuhan orang sakit), dan Peruru (perkawinan adat).

Dengan jumlah penduduk 300 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 600 jiwa, sebagian besar penduduk bermata pencaharian petani karet dan buah. "Kalau pencaharian utama ya getah karet, kalau yang buahnya seperti durian itu hanya musiman saja dijual," kata Antonius.

Situs sejarah walau belum berumur sangat tua, juga terlacak jejaknya di Desa Tanjung Sokek, Kecamatan Bongan, Muara Kedang. Di sebuah tanah lapang di desa tersebut, terdapat kumpulan patung yang terbuat dari kayu ulin. Blontangan yang digunakan untuk mengikat hewan kurban pada perayaan upacara, dan kerering, semacam nisan untuk makam keturunan raja dari Suku Dayak Luangan (campuran Suku Dayak Bentian dan Pasir). Menurut Kepala Desa Tanjung Sokek Atumsyah O, warga desa kerap melakukan upacara adat di sini. Semisal Erau, perayaan tahun baru, dan Belian. "Hewan kurbannya kerbau, karena itu yang dipelihara warga di sini," ujar Atumsyah.

Pada blontangan, tinggi patung sekitar tiga meter yang berukiran vertikal, menggambarkan manusia dan hubungannya dengan binatang. Di atas kepala orang terdapat kucing, di pinggangnya terkempit babi, kemudian di punggung ada anjing, dan terakhir di bawah terdapat kerbau. Atumsyah menceritakan, hewan-hewan tersebut merupakan simbol kehidupan bagi masyarakat Suku Dayak Luangan di Desa Tanjung Sokek. Kucing menjadi hewan peliharaan bagi Suku Luangan dan anjing menjadi penjaga wilayah desa. Sedangkan babi dan kerbau merupakan hewan persembahan kurban. Untuk blontangan sendiri, dulu di desa ini banyak terdapat perajin yang bisa membuat patung khas Suku Luangan. "Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, ini saja untuk blontangan yang baru kami harus membayar orang, upahnya Rp2,5 juta yang dikerjakan selama seminggu," tutur Atumsyah.

Pada kerering, terdapat dua jenis, batang dan tembelak. Untuk batang, pada puncak tiang terdapat kotak persegi kecil sedangkan tembelak, berbentuk kotak panjang. Isi keduanya adalah tulang-tulang manusia yang telah dikubur sebelumnya. Masing-masing kerering berbeda bentuknya, tergantung dari strata orang yang dikubur. Yang paling besar dan tertinggi terdapat tulisan nama Oyok, ia adalah orang yang memimpin desa ini pertama kali, dan ayah dari Atumsyah.

Kata Atumsyah, desa yang berada di tepi Sungai Bongan ini pertamakali dibuka tahun 1960-an. Sebanyak 70 KK datang dari Ulu Mahakam dan Muara Muntai. "Tetapi sekarang penduduk yang ada di desa ini justru berkurang karena terserang wabah penyakit muntaber. Saat ini hanya ada 29 KK atau 146 jiwa," imbuhnya. [tre]

Menengok Hutan Lindung Beratus (2)


Berburu Durian Sampai Pelosok

MUSIM durian, memang satu musim yang paling indah dan menyenangkan ketimbang musim hujan atau kemarau. Setidaknya, begitulah pendapat kami dalam perjalanan kali ini. Sepanjang perjalanan, melalui kaca jendela mobil yang lumayan berdebu, mata selalu menjadi tajam jika di tepi kanan kiri jalan teronggok sekumpulan buah durian. Kadang, mobil yang telah melaju beberapa meter, harus kembali mundur hanya untuk menawar dan membeli durian.

"Sebelah kanan itu apa," teriak Aldrin yang kompak disertai putaran kepala dan pandangan mata. Seketika senyum sumringah langsung terpasang di wajah kami ketika melihat bulatan-bulatan berduri tajam seukuran kepala manusia dewasa. Di antara durian biasa yang kerap kami temui, ada durian hutan--disebut krantungan-- yang sangat sulit ditemui di kota. Perbedaannya tipis saja, duri krantungan pada kulit lebih panjang, tajam, dan runcing. Jika durian biasa mempunyai beberapa bilah, krantungan hanya sekali dibelah tengah dan buahnya hanya berjumlah sekitar enam yang terbagi dua karena belahan di tengah tadi. Rasanya lebih manis, dan harganya sedikit agak tinggi dibanding harga durian biasa. Maklum, agak langka karena hanya berada di hutan.

Berjam-jam kami berburu durian, setidaknya mulai dari pukul tiga sore hingga menjelang maghrib. Dari satu pelosok desa ke desa lain, bahkan hingga kebun pun kami jelajahi. Kalau perlu jika di tengah jalan ada penduduk desa yang membawa keranjang bambu khas Suku Dayak (anjat), mereka pasti akan dicegat untuk melihat apa isi di dalam anjat. Jika durian, pastilah langsung ditanya, "Dijualkah Bu duriannya?" Kalau mereka mengangguk, lantas terjadilah tawar-menawar harga. Tentu saja harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan durian kota. Kami terkaget-kaget, bahkan kadang heran mendengar harga yang sangat miring sekali. Untuk durian berukuran sedang, harga berkisar Rp 2.000-3.500; yang agak besar biasanya Rp 4.000-5.000; dan paling besar (dua kali ukuran sedang) Rp 7.000-. Seketika benak kami langsung membandingkan harga durian di kota yang berukuran kecil dan rasa belum tentu manis dengan harga paling minim (itu pun jika beruntung pandai menawar) Rp 5.000-.

Lantas, apa yang terjadi? Kami semakin bersemangat memburu durian untuk memenuhi bak belakang mobil ford ranger. Desa Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok tak luput dari incaran mata-mata penggemar berat durian. Bahkan Ilin, seorang ibu yang habis pulang dari kebun menjadi incaran kami untuk menunjukkan kebun duriannya. "Kalau mau, saya kasihkan saja tidak usah bayar, tapi ambil sendiri duriannya dari pohon," tuturnya melihat kami yang sangat antusias berburu durian layaknya seorang punggawa (tengkulak) yang akan menjual kembali buah itu ke kota. Untungnya, (atau malah rugi?) tak ada seorang pun dari kami yang nekat memetik sendiri, mungkin juga malas, atau malah tidak bisa.

Menjelang senja yang tak nampak karena tertutup pucuk-pucuk pohon durian yang menjulang, kami mulai letih berburu. Bak mobil telah penuh dengan ratusan buah. Tetapi entah kenapa, buah yang teronggok di teras rumah penduduk, selalu punya daya tarik untuk didatangi. "Kayaknya cukup, tapi coba siapa tahu mereka mau dibeli dengan harga Rp1.500, kita ambil," ujar seorang teman berseloroh. Untung saja tidak dapat, kalau ya...tidak terbayang akan ditaruh di mana lagi. Kali ini, kiasan bagai mendapat durian runtuh tampaknya bukan sekedar rangkaian kata konotatif alias isapan jempol belaka. [tre]
wrote on February, 2005

Thursday, September 07, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (1)


Banyak Sawmil Gelap Bertebaran

Populasi orangutan yang memiliki nama latin Pongo pygmaeus semakin terancam. Habitat mereka semakin terdesak karena kerusakan alam yang terjadi terus-menerus. Pada awal tahun 1900 populasi orangutan di Kalimantan diperkirakan mencapai 230.000 ekor, tetapi jumlah ini terus menyusut hingga berkurang menjadi 38.000 ekor saja, atau sekitar 17 persen dari jumlah yang ada ditahun 1900. Lantas, bagaimana upaya untuk mencegah kepunahan ini? Untuk mencari tahu keadaan di sana, saya mencoba melihat dari dekat kondisi Hutan Lindung Beratus, tempat orangutan hasil reintroduksi BOSF yang telah dilepasliarkan sejak tahun 1996.

HUTAN lindung Beratus, begitulah nama tempat yang akan kami tuju. Terletak di kaki pegunungan Beratus, Kabupaten Kutai Barat, perjalanan darat yang kami tempuh amatlah panjang dan lumayan melelahkan. Sebenarnya, jarak perjalanan hanya sekitar 198 km, tapi menjadi sangat lama karena melewati satu jalan logging milik PT ITCI ketika menuju kawasan Beratus.

Perjalanan dimulai dari Kantor Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Samboja, Kutai Kartanegara sekitar pukul 10.00 WITA dengan rombongan berjumlah 10 orang yang terbagi dalam dua kelompok. Rombongan pertama terdiri dari Aldrianto Priadjati (Program Manager BOSF), Adhit (staf komunikasi BOSF), Noorcahyati (Loka Litbang Satwa Primata Wanariset Samboja), saya, dan seorang supir yang cekatan, Bondan, dengan menumpang mobil ranger silver dobel gardan. Sedangkan rombongan kedua terdiri dari Analiza Chaniago, Pandu, Helda (ketiganya pemerhati dan aktivis lingkungan), Herman (staf Geographic Information Systems BOSF), dan Iwan, supir mobil Hiline putih dobel gardan yang tak kalah gesit.

Dari Samboja, kami melewati Tenggarong dan terus melaju melewati Desa Gusik, Jambuk, dan Resak yang sudah masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Perjalanan yang sesungguhnya dimulai, kendati belum melewati jalan logging, tapi kondisi jalan mulai tak mulus, sebab jalan sepanjang lebih dari 10 km itu masih dalam tahap pengerasan. Alhasil, debu-debu yang tebal langsung beterbangan ketika kendaraan lain melaju dan karena berbatu-batu, kami yang di dalam mobil jelas tak bisa tidur nyenyak walaupun mata sudah mengantuk. Gemeretak roda ketika menapak jalan begitu terasa keras mengguncang tubuh kami.

"Wah sekarang mendingan dibanding dengan dulu karena sudah ada pengerasan. Sebelumnya jalanan begitu rusak dan becek kalau hujan sebab masih tanah," ujar Ida, seorang penduduk Desa Resak III yang telah menetap sejak tahun 2000, ketika kami bertanya saat mampir di warungnya. Ia menambahkan, pengerasan dilakukan tahun 2003, tetapi entah mengapa hingga kini belum juga diaspal.

Selain jalan yang rusak, tak banyak pemandangan indah yang bisa kami nikmati. Di sepanjang kanan kiri jalan warna hijau pepohonan hutan tak lagi tertegas dengan jelas, tetapi digantikan dengan tumpukan-tumpukan kayu yang berserakan di tepi jalan. Truk-truk kuning pengangkut kayu hilir mudik tak terhitung, dan pabrik-pabrik sawmil gelap bertebaran di sepanjang jalan Desa Resak, Kecamatan Bongan. Aktivitas pemotongan kayu ulin tanpa ragu-ragu sangat kentara di sana, padahal tak jauh dari situ, sekitar 500 meter, pos polisi berdiri. Selepas mata memandang, cuma keprihatinan yang terasa, betapa trenyuh mengingat janji pemberantasan illegal logging yang didengungkan pemerintah pusat dan daerah ternyata tak sampai ke sini. Menurut Ida, sawmil yang ada di situ setiap hari memproduksi sekitar lima meter kubik kayu. Bayangkan, berapa juta meter kubik kayu ulin yang telah ditebang selama berpuluh-puluh tahun?

Lebih mengenaskan lagi, Zainuddin SE anggota DPRD Kubar dari Komisi II menyatakan, kayu-kayu yang diambil dan diproses pabrik sawmil di sepanjang jalan, merupakan kayu-kayu bekas terbakar alias kayu limbah. "Itu bukan kayu-kayu hidup, tapi kayu yang diambil dari bekas kebakaran. Mereka tahu kok kalau menebang hutan tanpa izin itu dilarang," katanya. Lantas, kemana larinya kayu ulin yang utuh, jika mereka hanya mengambil kayu bekas kebakaran?

Ia tak dapat menjawab pasti, tapi yang jelas, dari DPRD Kubar, khususnya Komisi II belum mempunyai program kerja yang jelas untuk masalah lingkungan. "Bagaimana kami mau menangkap, sebab belum ada hukum yang jelas?" elaknya. Nampaknya, UU Lingkungan Hidup No 23 tahun 1997 dianggap belum cukup mumpuni untuk menjerat para pelaku IL yang begitu nyata ada di depan mata. [tre]

Thursday, May 18, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (4-habis)


Kami akan Menjaga Hutan Lindung Wehea
Setiap hari Ing Dom dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea berkeliling ke dalam hutan. Berbekal parang, seragam kerja berupa kaos lengan panjang, topi, dan sepatu boot, mereka mengawasi dan menyibak belantara. Tak sekedar menjaga, Petkuq Mehuey atau tim monitoring Hutan Lindung Wehea yang disahkan melalui keputusan Badan Pengelola (BP) Huliwa pada 31 Maret 2005 juga bertugas menginventarisasi tempat-tempat di wilayah Huliwa yang sekiranya bisa dijadikan obyek wisata, seperti halnya air terjun tujuh tingkat ini.
KALAU kami dapat sesuatu, nanti dicatat dan dilaporkan pada BP Huliwa," ucap Ing Dom. Rencananya, Huliwa akan dibagi dalam tiga zona yaitu zona inti II, kritis habitat orangutan, dan penyangga. Huliwa diharapkan tak hanya memberikan manfaat pada aspek konservasi saja tetapi juga manfaat sosial secara jangka panjang dalam pemberdayaan dan peningkatan ekonomi bagi pengelola kawasan serta masyarakat sekitar. Sebelumnya, BP Huliwa telah melakukan kunjungan ke Danum Valley, kawasan ekowisata dan konservasi di Malaysia yang memiliki karakteristik hutan yang amat mirip. BP Huliwa optimistis bisa membuat Huliwa seperti Danum Valley, bahkan lebih bagus lantaran keanekaragaman hayati dan objek alam yang lebih banyak.
Di atas kertas, nantinya kegiatan pariwisata dan rekreasi alam di kawasan Huliwa diarahkan pada upaya pendayagunaan potensi obyek wisata alam dengan tetap memperhatikan prinsip keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan pelestarian alam. Tentu saja kegiatan tersebut akan berbasis pada masyarakat sekitar. Pelibatan masyarakat telah dimulai dengan pembentukan Petkuq Mehuey yang terdiri dari 30 orang warga Desa Nehes Leah Bing dan dibagi dalam enam kelompok. Mereka bergiliran tugas untuk mengamankan dan memonitoring semua kegiatan yang terjadi di dalam kawasan Huliwa. Ing Dom ditunjuk sebagai Koordinator Tim Petkuq Mehuey, setiap kelompok masuk hutan selama dua minggu dan seterusnya diganti oleh kelompok lain.

Tim tersebut juga ditahbiskan melalui keputusan Edat (adat) dengan nama Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea, yang berarti penjaga hutan lindung Wehea. Warga Desa Nehes Liah Bing atau yang kerap disebut Slabing sadar akan kelestarian hutan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal mereka. "Maey Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea (kami akan menjaga hutan lindung Wehea) karena tak ingin ada bencana alam yang bisa menimpa dan merusak desa kami seperti di daerah lain di Indonesia," tutur Ing. Masyarakat Suku Wehea percaya, jika mereka bisa menjaga hutan dengan baik, bencana tak akan timbul.
Dia berkata begitu, lantaran sepanjang tahun 2005, masyarakat Desa Slabing mengalami banjir setinggi dua meter sebanyak 13 kali dalam setahun akibat penggundulan hutan di daerah hulu. Padahal biasanya, dalam lima tahun baru terjadi banjir. Tak ingin ada bencana alam yang lebih parah, mereka bersedia dan mendukung upaya BP Huliwa (The Nature Conservancy bekerjasama dengan Pemkab Kutim membentuk BP Huliwa) untuk menjadikan Huliwa sebagai kawasan konservasi, ekowisata, dan sarana pendidikan serta penelitian.
Saking seriusnya Suku Wehea menjaga hutan, mereka juga membuat SK Adat yang menjatuhkan denda kepada pelaku pengrusakkan hutan di kawasan Huliwa seperti menebang pohon atau memburu binatang di sini. "Sejak dulu kami hidup dari alam, jika hutan habis dan rusak, bisa-bisa kami tak punya tempat tinggal dan mencari makan di sini lagi," tandas Ing yang berusia 40 tahun ini bijak. [tre]

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (3)


Diserang Pasukan Pacet
Kondisi biogeofisik dalam kawasan hutan lindung Wehea sebagai kawasan yang diusulkan ternyata memiliki potensi keanekaragaman jenis flora yang tinggi baik jenis pohon, anggrek, jamur, liana maupun rotan. Di sisi lain terdapat pula beberapa jenis pohon yang merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat lokal dan potensi pakan bagi orangutan maupun beberapa primata lainnya.

SAKING rapatnya pepohonan di dalam hutan, matahari yang bersinar penuh tak bisa terlihat. Meski cuaca cerah, tetapi keadaan lumayan gelap, suhu pun terasa lebih dingin. Huliwa memang masih relatif bagus, pasalnya di lantai hutan banyak terdapat serasah atau daun-daun yang berjatuhan baik yang masih berwarna hijau maupun kuning kecoklatan.
Umur tetumbuhan yang ada pun lengkap, mulai dari anakan hingga ratusan tahun, dan tidak lupa, kondisi hutan yang masih bagus, ditandai juga dengan banyaknya pacet alias lintah. Ketika masuk ke dalam hutan, tanpa sadar tubuh kami, mulai dari ujung kaki hingga wajah diserang pasukan pacet. Mereka dengan leluasa menghisap darah kami. Saat pacet sudah gemuk, kami baru tahu kalau ada pacet yang menempel. Dengan agak geli, pacet kami tarik dan dampaknya, darah segar mengucur dari kulit.
Bahkan Analiza mendapat bonus serangan pacet di samping pelupuk mata kanan. "Tidak apa-apa, diserang pacet justru lebih sehat karena darah kotor jadi terbuang. Yah sekali-kali donorlah," kata Pak Ing Dom yang bebas sentosa dari serangan pacet sebab tubuhnya terbungkus rapat dengan kemeja panjang, celana panjang, dan sepatu bot. Tetapi kami yang dihisap, cuma bisa misuh-misuh sembari melepas pacet satu per satu di kaki dan betis. Serangan pasukan pacet itu rupanya memang lumayan dahsyat, mereka bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kelihatan. Bahkan ketika kami sampai di jalan logging dan menyantap makan pagi menjelang siang (lantaran waktu telah menunjukkan pukul 09.00) masih kelihatan.
Usai sarapan, kami berniat sekali bisa melihat hewan-hewan langka yang ada di dalam hutan. Berdasarkan hasil penelitian, di Huliwa terdapat keanekaragaman jenis fauna yang masuk kategori A I (apendiks satu alias sangat dilindungi) hingga D III (dilindungi). Di antaranya, orangutan, owa-owa, beruk, lutung merah, lutung abu-abu, rusa, kijang, kancil, pelanduk, monyet ekor panjang, ayam hutan, macan dahan, enggang, babi hutan, trenggiling, hingga landak. Kategori tersebut berasal dari peraturan yang ditetapkan pemerintah Indonesia maupun dunia international (IUCN). Lantaran status tersebut, BP Huliwa mencoba memberikan upaya perlindungan keanekaragaman hayati flora pada kawasan tersebut. Sebab, kendati jenisnya banyak tetapi jumlah individunya sangat terbatas.
"Jalan sedikit, nanti kita bisa bertemu lutung merah," saran Chris. Kami patuhi perintah Chris dengan duduk-duduk sembari mengamati pepopohonan di sekitar kami. Hampir 30 menit menunggu, ternyata tak ada satu pun hewan yang keluar. Mungkin mereka tahu kalau sedang ingin dilihat, padahal biasanya, Chris kerap menemui secara tak sengaja dan dengan mudah bisa mendapatkan rusa yang berlari, owa-owa yang bergelayutan di dahan, atau burung enggang yang melintas terbang. Nasib mujur memang belum berpihak pada kami, sebab kami cuma bisa mendengar bebunyian serangga saja dan tentunya pacet yang jelas terlihat dan menggigit. [tre]

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (2)


Menemukan Tujuh Tingkat Air Terjun
Pagi telah memanggil, sejatinya kami harus bergegas saat subuh tiba untuk menjelajahi hutan alias trekking. Tetapi udara begitu dingin, hingga tak heran jika kami masih meringkuk di kantung tidur masing-masing kendati suara burung dan gareng (sejenis serangga besar) berbunyi bersahut-sahutan. Baru pukul 06.00 kami mulai bangkit satu per satu dan sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri. Gemericik air sungai yang jernih di depan bivak, serasa menggoda untuk diterjuni, tetapi seruan kaget langsung keluar lantaran air sangat dingin.
USAI sarapan, kami membenahi bivak dan mengepak barang-barang bawaan ke mobil ford ranger. "Tadi malam serasa ada yang menyundul-nyundul sleeping bagku terus bunyi kresek-kresek di situ," tunjuk Yopi di mana tas-tas ransel diletakkan. Dia mengaku, daripada kaget melihat wujud sesungguhnya, lebih baik tidak menghiraukan dan terus memejamkan mata hingga pagi tiba.
Menurut Christian yang biasa dipanggil Chris, kemungkinan besar suara yang dimaksud berasal dari binatang yang berkeliaran di malam hari. Sebelumnya jika ia menjelajahi Huliwa kerap melihat orangutan, owa-owa, macan dahan, beruang, burung enggang, dan lainnya.
"Di sini banyak sekali hewan bisa ditemukan, untuk burung saja ada ratusan jenis," terang dia.
Pukul 07.30 kami mulai berlalu dari Camp I alias tempat menginap kami tadi malam menuju tepi Sungai Skung bersama Ing Dom, Koordinator Petkuq Mehuey atau tim monitoring Huliwa yang ikut menginap semalam. Sekitar 700 meter, ford ranger berhenti. Di sana kami bertemu dengan anggota tim monitoring lainnya yakni Malba, Johny, dan Tleang yang selalu siap dengan parang di pinggangnya. Beriringan, kami mulai perjalanan yang sesungguhnya. Menyibak dahan, bergelayut pada akar, menjejak tanah yang sangat licin, menyusuri anak sungai, dan memanjat-menuruni lereng hutan yang curam dengan kemiringan antara 15 hingga 45 derajat.Tak jarang beberapa dari kami harus terjun bebas alias terjatuh karena tak mampu mendarat di tanah dengan tepat. Alhasil, celana panjang kanvas atau training yang kami kenakan penuh dengan tanah, belum lagi peluh yang membasahi wajah dan tubuh, serta tangan yang kerap tergores dengan duri.
"Masih jauh ya air terjunnya," begitu tanya kami pada Pak Ing Dom sebagai ketua rombongan atau istilah kerennya Tim Ekspedisi Air Terjun. Dengan tenang dia hanya menjawab, "Dekat saja, cuma 300 meter kok. "Tetapi 300 meter di hutan tentu berbeda dengan 300 meter di jalan datar dan lurus. Tujuan serasa jauh sekali, padahal napas sudah tersengal-sengal. Begitu mendengar suara bergemuruh, semangat yang sudah menipis langsung bangkit kembali. Bersicepat kami buru arah suara tersebut, dan...seruan takjub langsung berhamburan dari mulut kami yang baru pertama kali melihat. Ternyata menurut Pak Ing Dom, air terjun itu bukan klimaks perjalanan. Pasalnya, masih ada enam buah lagi air terjun yang akan kami dapati. Benar saja, baru 40 meter berjalan, kami temui kembali air terjun kecil di atasnya. Terus bertingkat-tingkat dengan rentang jarak yang nyaris sama. Tapi di sini kami agak kesulitan melewatinya. Sebab, tak ada jalan lain untuk naik ke atas selain meniti air terjun dengan pijakan bebatuan yang teramat licin.
Untung saja, pasukan Pak Ing Dom dan Chris yang telah terbiasa dengan medan hutan membantu kami. Dengan dahan rotan yang kuat dijadikan tambang sebagai landasan pegangan tangan, kami menahan beban tubuh agar tak tergelincir. Pelan namun pasti, satu per satu "Tim Ekspedisi" berhasil sampai ke atas terus hingga menemukan air terjun ke tujuh yang sementara ini dinamakan air terjun kelelawar lantaran di samping air terjun terdapat gua kecil tempat bertengger kelelawar. Sedangkan air terjun dari pertama hingga keenam belum dinamakan karena baru ditemukan tanggal 2 Februari 2006 oleh Pak Ing Dom dan kawan-kawan.
Perasaan bangga meluapi diri kami karena telah berhasil menaklukan medan dan melihat tujuh air terjun tersebut. Tetapi kami kembali meringis saat harus pulang dengan jalur yang berbeda tapi tetap saja sulit dan lumayan berat. [tre]

Friday, May 12, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (I)


Huliwa di antara Sungai Skung dan Metgueen

Sekitar 38.000 hektare (ha) wilayah eks HPH PT Gruti III telah ditetapkan sebagai kawasan Hutan Lindung Wehea (Huliwa) melalui SK Bupati Kutim No 299/02.188.45/HK/IX/2004. Daerah tersebut layak dilestarikan lantaran Huliwa merupakan pelindung dan penyangga stabilitas hidrologi sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Seleg, Melinyiu, dan Sekong yang merupakan bagian hulu Sungai Wahau, salah satu sungai penting di Kabupaten Kutim. Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, di mana berbagai habitat satwa langka dan tetumbuhan terdapat di sini. Beberapa hari yang lalu, saya bersama The Nature Conservancy (TNC) dan Radio Gema Wana Prima (GWP) atas undangan Badan Pengelola (BP) Huliwa Pemkab Kutim, Provinsi Kaltim, menjelajahi Huliwa selama dua hari satu malam untuk melihat lebih dekat keadaan di sana.

PERJALANAN udara sengaja saya ambil dari Balikpapan menuju Sangatta, ibukota Pemkab Kutai Timur, untuk menyingkat waktu. Pasalnya, jika naik travel lewat jalan darat, butuh waktu hingga tujuh jam, sedangkan pesawat hanya membutuhkan waktu antara 30-45 menit saja. Saya berangkat dengan menumpang pesawat kecil milik PT KPC dari Bandara Sepinggan ke Bandara Tanjung Bara. Untungnya saya berhasil membeli tiket PP Rp 900 ribu sehari sebelumnya untuk penerbangan keberangkatan Sabtu pagi. Biasanya, seat yang tersedia sudah penuh dan pesawat berkapasitas sekitar 20-an penumpang itu tak boleh untuk umum. Hanya pegawai KPC dan perusahaan kontraktornya yang boleh menumpang pesawat itu. Untungnya lagi, saya bekerja di media massa yang punya cukup pengaruh di Kaltim, jadi urusan menumpang pesawat pun lancar hehehe, meski saya dapat jam berangkat sangat pagi, pukul 06.00.

Kendati sudah dari subuh saya bersiap-siap berangkat, tetapi tak urung saya cemas juga melihat jam di mobil telah menunjukkan waktu pukul 05.50. Deg-degan takut ditinggal, soalnya pesawat itu sangat dikenal on time. Ketika memasuki bandara, ternyata petugas pesawat DAS sudah melongok-longok dan segera menyebut nama saya begitu saya datang. "Segera Bu, soalnya lima menit lagi kita berangkat," ucapnya. Syukurlah, hampir saja. Bawaan saya tak banyak, hanya satu ransel berisi pakaian dan peralatan mandi plus sack bag yang berisi peralatan tulis dan kamera.

Tak seperti menumpang pesawat komersial lainnya yang besar dan nyaman, di sini kita harus menutup telinga dengan headphone atau earphone karet yang diberi petugas DAS saat masih di bandara. Suaranya sangat bising, bahkan setelah memakai penutup telinga pun suara deru mesin pesawat masih kedengaran. Saya pun berharap agar perjalanan itu bisa cepat sampai. Sempat istirahat sehari di Sangatta di sekretariat TNC-BP Huliwa di Komplek Perumahan Panorama, Swarga Bara dan esoknya kami harus berangkat pagi-pagi sekali.
Perjalanan dari Sangatta menuju Huliwa ternyata lumayan melelahkan. Butuh waktu sekitar delapan setengah jam dengan mengendarai mobil dobel gardan Strada Ranger untuk menempuh jarak sepanjang 292 km. Sejak pukul 07.30 rombongan yang terdiri dari TNC yaitu Taufik Hidayat, Analiza Chaniago, Nela Mariana, Christian Djoka dan Syahroni, kemudian penyiar GWP Yopi Al Juhri dan saya meluncur dari sekretariat TNC. Baru satu jam berjalan, kami harus berhenti di wilayah Bengalon untuk mengisi perut. Pasalnya, "kampung tengah" terasa tak nyaman alias mual karena perut kosong. Selama satu jam sarapan, kami langsung tancap gas menuju Huliwa. Tetapi belum lagi matahari tepat di atas kepala, kami harus singgah kembali di Pasar Baru, Satuan Pemukiman IV (kawasan transmigrasi) di Kecamatan Kombeng untuk berbelanja beberapa keperluan selama di hutan. Lantaran masih kenyang, kami tak jadi makan siang di rumah makan yang kami singgahi, hanya membungkus nasi untuk makan di tempat tujuan. Rombongan berkurang satu karena Taufik harus pergi ke Desa Nehes Liah Bing bertemu warga desa. Selepas pukul 13.00, kami kembali melanjutkan perjalanan, tujuannya langsung ke Huliwa. Selama hampir tiga jam berjalan, medan yang kami lalui lumayan berat. Pasalnya, akses jalan yang harus ditempuh hanya melewati jalan logging yang tentu saja kondisinya sangat "off road" sekali.
Kadang, jalanan begitu sempit sehingga sisi kanan-kiri badan mobil harus berpapasan langsung dengan dahan-dahan pohon yang menjuntai lebat. Tak hanya itu, di dalam mobil, kepala sering terantuk dengan tempat pegangan di sisi kanan atas jendela dalam karena kendaraan kerap miring beberapa derajat saat melewati jalanan yang becek dan mempunyai cekungan dalam. Untungnya, perjalanan tak membosankan sebab di dalam mobil kami terhibur dengan canda tawa. Terlebih, ketika mata tak bisa lagi merem lantaran guncangan mobil melihat pemandangan sekitar. Ketika ranger berhenti di sebuah tanah yang cukup datar dan lapang, kami sempat melihat "pintu gerbang" Huliwa yang ditandai dua patung dari kayu ulin dan papan bertuliskan Lembaga Adat Desa Nehes Liah Bing kawasan hutan dengan tujuan khusus perlindungan hutan dan habitat orangutan. Demi mentahbiskan hutan menjadi kawasan lindung masyarakat adat Dayak Suku Wehea membuat upacara adat pada 6 November 2004. Mereka sepakat memberi nama Letaah Las Wehea Long Skung Metgueen yang berarti kawasan Hutan Lindung Wehea yang berada diantara sungai Skung dan Sungai Metgueen. Seketika udara segar menyergap hidung kami, bau hutan terasa khas, apalagi tatkala kami tiba di lokasi camp I, di mana kami akan menginap semalam. Bivak segera didirikan, benar-benar seperti tenda darurat. Beratapkan terpal plastik dengan dipan dari papan yang dialasi matras dan kantung tidur (sleeping bag). [tre]

Tuesday, May 09, 2006

Menyusuri Taman Wisata Laut Derawan (4)

Program KKL untuk Menjaga Kelestarian Alam
Keindahan dan kekayaan ekosistem pesisir di Kepulauan Derawan, kadang bisa menjadi bumerang jika ternyata tak mampu dijaga dengan baik. Kekayaan tak hanya sebagai anugerah, tapi bisa menjadi bencana jika terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, penyu hijau, paus, lumba-lumba, dan spesies langka lainnya tidak dilindungi. Saat ini, keasrian alam Kepulauan Derawan dan sekitarnya memang masih terbilang relatif bagus, tapi siapa yang bisa menebak kondisi itu akan tetap bertahan dalam hitungan waktu ke depan? Dari pengamatan saya selama beberapa hari di sana, ternyata Kepulauan dan Perairan Pulau Derawan menyimpan potensi konflik yang jika tidak diantisipasi segera akan menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan masyarakat nelayan sendiri.

DARI tahun ke tahun, degradasi alam semakin meningkat baik secara alami maupun campur tangan manusia. Tanpa dijamah, abrasi pantai akan terjadi karena proses alam. Tetapi dengan adanya campur tangan manusia, dapat dipastikan laju kerusakan dapat semakin tak terbendung. "Beberapa nelayan bahkan sudah mengeluh karena tangkapan ikan mereka jauh berkurang hingga 60 persen sejak 10 tahun terakhir ini," terang Program Coordinator Berau-sekretariat bersama (sekber) Khazali Harahap. Hal itu terjadi akibat penggunaan pukat harimau, potasium, trawl atau alat tangkap ikan lainnya yang merusak ekosistem di laut, tak terkecuali terumbu karang yang menjadi rumah ikan.

"Pada saat mereka menangkap ikan dengan cara seperti itu, hasilnya memang lebih banyak dibanding menangkap ikan secara alami, tetapi karena terumbu karang juga rusak sehingga ikan-ikan yang terdapat di perairan tersebut otomatis berkurang," ungkap Khazali. Akibatnya, nelayan harus lebih jauh melaut untuk menangkap ikan dan ini tentu saja menjadi tak efisien lantaran biaya operasional kapal nelayan menjadi membengkak yang akhirnya berimbas pada pendapatan nelayan.
Menyadari hal tersebut, Pemkab Berau bersama Mitra Pesisir Kaltim, WWF, dan TNC yang tergabung dalam sekber membuat program Kawasan Konservasi Laut (KKL). Tujuannya tak lain, melindungi daerah pesisir dan perairan dari ancaman kerusakan karena ulah tangan manusia. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan sebab beberapa waktu lalu, banyak terjadi perikanan ilegal, pencurian penyu dan eksploitasi telur penyu.
Menurut Marine Policy Coordinator Sekber Handoko Adi M Sc, mereka telah membuat rencana program mulai tahun 2004-2008. Di dalamnya, terdapat pendidikan lingkungan dan pengembangan kawasan pesisir dan laut bagi masyarakat setempat. "Saat ini kami tengah mendesain dan merencanakan zonasi. Nantinya ada zona batas terluar, zona pemanfaatan sumber daya alam, dan zona inti. Dari batasan zona tersebut, masyarakat akan tahu mana daerah yang boleh menangkap ikan dan mana yang tidak karena digunakan sebagai zona inti atau areal konservasi," terang Handoko.
Program KKL ini memang awalnya digagas sekber, tetapi selanjutnya peran masyarakat setempat yang diharapkan meneruskan kegiatan ini. "Kami hanya fasilitator yang memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya kelestarian itu, untuk waktu ke depan merekalah yang menjaga kenakeragaman hayati yang mereka miliki sekarang," papar Handoko.
Putihnya pasir pantai, beningnya air laut, berwarnanya terumbu karang dan berbagai jenis ikan memang indah dipandang. Sejatinya, kekayaan itu bisa menjadi kebanggaan masyarakat setempat dari dulu, sekarang, dan juga nanti. Tampaknya kebijakan pemerintah setempat bersama stakeholder dan kearifan budaya masyarakat yang bisa menjawabnya kemudian. Apakah keanekaragaman hayati dunia bawah laut di Kepulauan Derawan dan sekitarnya masih menjadi yang terbaik di dunia atau sebaliknya. [tre]