Thursday, May 18, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (2)


Menemukan Tujuh Tingkat Air Terjun
Pagi telah memanggil, sejatinya kami harus bergegas saat subuh tiba untuk menjelajahi hutan alias trekking. Tetapi udara begitu dingin, hingga tak heran jika kami masih meringkuk di kantung tidur masing-masing kendati suara burung dan gareng (sejenis serangga besar) berbunyi bersahut-sahutan. Baru pukul 06.00 kami mulai bangkit satu per satu dan sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri. Gemericik air sungai yang jernih di depan bivak, serasa menggoda untuk diterjuni, tetapi seruan kaget langsung keluar lantaran air sangat dingin.
USAI sarapan, kami membenahi bivak dan mengepak barang-barang bawaan ke mobil ford ranger. "Tadi malam serasa ada yang menyundul-nyundul sleeping bagku terus bunyi kresek-kresek di situ," tunjuk Yopi di mana tas-tas ransel diletakkan. Dia mengaku, daripada kaget melihat wujud sesungguhnya, lebih baik tidak menghiraukan dan terus memejamkan mata hingga pagi tiba.
Menurut Christian yang biasa dipanggil Chris, kemungkinan besar suara yang dimaksud berasal dari binatang yang berkeliaran di malam hari. Sebelumnya jika ia menjelajahi Huliwa kerap melihat orangutan, owa-owa, macan dahan, beruang, burung enggang, dan lainnya.
"Di sini banyak sekali hewan bisa ditemukan, untuk burung saja ada ratusan jenis," terang dia.
Pukul 07.30 kami mulai berlalu dari Camp I alias tempat menginap kami tadi malam menuju tepi Sungai Skung bersama Ing Dom, Koordinator Petkuq Mehuey atau tim monitoring Huliwa yang ikut menginap semalam. Sekitar 700 meter, ford ranger berhenti. Di sana kami bertemu dengan anggota tim monitoring lainnya yakni Malba, Johny, dan Tleang yang selalu siap dengan parang di pinggangnya. Beriringan, kami mulai perjalanan yang sesungguhnya. Menyibak dahan, bergelayut pada akar, menjejak tanah yang sangat licin, menyusuri anak sungai, dan memanjat-menuruni lereng hutan yang curam dengan kemiringan antara 15 hingga 45 derajat.Tak jarang beberapa dari kami harus terjun bebas alias terjatuh karena tak mampu mendarat di tanah dengan tepat. Alhasil, celana panjang kanvas atau training yang kami kenakan penuh dengan tanah, belum lagi peluh yang membasahi wajah dan tubuh, serta tangan yang kerap tergores dengan duri.
"Masih jauh ya air terjunnya," begitu tanya kami pada Pak Ing Dom sebagai ketua rombongan atau istilah kerennya Tim Ekspedisi Air Terjun. Dengan tenang dia hanya menjawab, "Dekat saja, cuma 300 meter kok. "Tetapi 300 meter di hutan tentu berbeda dengan 300 meter di jalan datar dan lurus. Tujuan serasa jauh sekali, padahal napas sudah tersengal-sengal. Begitu mendengar suara bergemuruh, semangat yang sudah menipis langsung bangkit kembali. Bersicepat kami buru arah suara tersebut, dan...seruan takjub langsung berhamburan dari mulut kami yang baru pertama kali melihat. Ternyata menurut Pak Ing Dom, air terjun itu bukan klimaks perjalanan. Pasalnya, masih ada enam buah lagi air terjun yang akan kami dapati. Benar saja, baru 40 meter berjalan, kami temui kembali air terjun kecil di atasnya. Terus bertingkat-tingkat dengan rentang jarak yang nyaris sama. Tapi di sini kami agak kesulitan melewatinya. Sebab, tak ada jalan lain untuk naik ke atas selain meniti air terjun dengan pijakan bebatuan yang teramat licin.
Untung saja, pasukan Pak Ing Dom dan Chris yang telah terbiasa dengan medan hutan membantu kami. Dengan dahan rotan yang kuat dijadikan tambang sebagai landasan pegangan tangan, kami menahan beban tubuh agar tak tergelincir. Pelan namun pasti, satu per satu "Tim Ekspedisi" berhasil sampai ke atas terus hingga menemukan air terjun ke tujuh yang sementara ini dinamakan air terjun kelelawar lantaran di samping air terjun terdapat gua kecil tempat bertengger kelelawar. Sedangkan air terjun dari pertama hingga keenam belum dinamakan karena baru ditemukan tanggal 2 Februari 2006 oleh Pak Ing Dom dan kawan-kawan.
Perasaan bangga meluapi diri kami karena telah berhasil menaklukan medan dan melihat tujuh air terjun tersebut. Tetapi kami kembali meringis saat harus pulang dengan jalur yang berbeda tapi tetap saja sulit dan lumayan berat. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home