Thursday, May 18, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (3)


Diserang Pasukan Pacet
Kondisi biogeofisik dalam kawasan hutan lindung Wehea sebagai kawasan yang diusulkan ternyata memiliki potensi keanekaragaman jenis flora yang tinggi baik jenis pohon, anggrek, jamur, liana maupun rotan. Di sisi lain terdapat pula beberapa jenis pohon yang merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat lokal dan potensi pakan bagi orangutan maupun beberapa primata lainnya.

SAKING rapatnya pepohonan di dalam hutan, matahari yang bersinar penuh tak bisa terlihat. Meski cuaca cerah, tetapi keadaan lumayan gelap, suhu pun terasa lebih dingin. Huliwa memang masih relatif bagus, pasalnya di lantai hutan banyak terdapat serasah atau daun-daun yang berjatuhan baik yang masih berwarna hijau maupun kuning kecoklatan.
Umur tetumbuhan yang ada pun lengkap, mulai dari anakan hingga ratusan tahun, dan tidak lupa, kondisi hutan yang masih bagus, ditandai juga dengan banyaknya pacet alias lintah. Ketika masuk ke dalam hutan, tanpa sadar tubuh kami, mulai dari ujung kaki hingga wajah diserang pasukan pacet. Mereka dengan leluasa menghisap darah kami. Saat pacet sudah gemuk, kami baru tahu kalau ada pacet yang menempel. Dengan agak geli, pacet kami tarik dan dampaknya, darah segar mengucur dari kulit.
Bahkan Analiza mendapat bonus serangan pacet di samping pelupuk mata kanan. "Tidak apa-apa, diserang pacet justru lebih sehat karena darah kotor jadi terbuang. Yah sekali-kali donorlah," kata Pak Ing Dom yang bebas sentosa dari serangan pacet sebab tubuhnya terbungkus rapat dengan kemeja panjang, celana panjang, dan sepatu bot. Tetapi kami yang dihisap, cuma bisa misuh-misuh sembari melepas pacet satu per satu di kaki dan betis. Serangan pasukan pacet itu rupanya memang lumayan dahsyat, mereka bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kelihatan. Bahkan ketika kami sampai di jalan logging dan menyantap makan pagi menjelang siang (lantaran waktu telah menunjukkan pukul 09.00) masih kelihatan.
Usai sarapan, kami berniat sekali bisa melihat hewan-hewan langka yang ada di dalam hutan. Berdasarkan hasil penelitian, di Huliwa terdapat keanekaragaman jenis fauna yang masuk kategori A I (apendiks satu alias sangat dilindungi) hingga D III (dilindungi). Di antaranya, orangutan, owa-owa, beruk, lutung merah, lutung abu-abu, rusa, kijang, kancil, pelanduk, monyet ekor panjang, ayam hutan, macan dahan, enggang, babi hutan, trenggiling, hingga landak. Kategori tersebut berasal dari peraturan yang ditetapkan pemerintah Indonesia maupun dunia international (IUCN). Lantaran status tersebut, BP Huliwa mencoba memberikan upaya perlindungan keanekaragaman hayati flora pada kawasan tersebut. Sebab, kendati jenisnya banyak tetapi jumlah individunya sangat terbatas.
"Jalan sedikit, nanti kita bisa bertemu lutung merah," saran Chris. Kami patuhi perintah Chris dengan duduk-duduk sembari mengamati pepopohonan di sekitar kami. Hampir 30 menit menunggu, ternyata tak ada satu pun hewan yang keluar. Mungkin mereka tahu kalau sedang ingin dilihat, padahal biasanya, Chris kerap menemui secara tak sengaja dan dengan mudah bisa mendapatkan rusa yang berlari, owa-owa yang bergelayutan di dahan, atau burung enggang yang melintas terbang. Nasib mujur memang belum berpihak pada kami, sebab kami cuma bisa mendengar bebunyian serangga saja dan tentunya pacet yang jelas terlihat dan menggigit. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home