Thursday, May 18, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (4-habis)


Kami akan Menjaga Hutan Lindung Wehea
Setiap hari Ing Dom dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea berkeliling ke dalam hutan. Berbekal parang, seragam kerja berupa kaos lengan panjang, topi, dan sepatu boot, mereka mengawasi dan menyibak belantara. Tak sekedar menjaga, Petkuq Mehuey atau tim monitoring Hutan Lindung Wehea yang disahkan melalui keputusan Badan Pengelola (BP) Huliwa pada 31 Maret 2005 juga bertugas menginventarisasi tempat-tempat di wilayah Huliwa yang sekiranya bisa dijadikan obyek wisata, seperti halnya air terjun tujuh tingkat ini.
KALAU kami dapat sesuatu, nanti dicatat dan dilaporkan pada BP Huliwa," ucap Ing Dom. Rencananya, Huliwa akan dibagi dalam tiga zona yaitu zona inti II, kritis habitat orangutan, dan penyangga. Huliwa diharapkan tak hanya memberikan manfaat pada aspek konservasi saja tetapi juga manfaat sosial secara jangka panjang dalam pemberdayaan dan peningkatan ekonomi bagi pengelola kawasan serta masyarakat sekitar. Sebelumnya, BP Huliwa telah melakukan kunjungan ke Danum Valley, kawasan ekowisata dan konservasi di Malaysia yang memiliki karakteristik hutan yang amat mirip. BP Huliwa optimistis bisa membuat Huliwa seperti Danum Valley, bahkan lebih bagus lantaran keanekaragaman hayati dan objek alam yang lebih banyak.
Di atas kertas, nantinya kegiatan pariwisata dan rekreasi alam di kawasan Huliwa diarahkan pada upaya pendayagunaan potensi obyek wisata alam dengan tetap memperhatikan prinsip keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan pelestarian alam. Tentu saja kegiatan tersebut akan berbasis pada masyarakat sekitar. Pelibatan masyarakat telah dimulai dengan pembentukan Petkuq Mehuey yang terdiri dari 30 orang warga Desa Nehes Leah Bing dan dibagi dalam enam kelompok. Mereka bergiliran tugas untuk mengamankan dan memonitoring semua kegiatan yang terjadi di dalam kawasan Huliwa. Ing Dom ditunjuk sebagai Koordinator Tim Petkuq Mehuey, setiap kelompok masuk hutan selama dua minggu dan seterusnya diganti oleh kelompok lain.

Tim tersebut juga ditahbiskan melalui keputusan Edat (adat) dengan nama Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea, yang berarti penjaga hutan lindung Wehea. Warga Desa Nehes Liah Bing atau yang kerap disebut Slabing sadar akan kelestarian hutan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal mereka. "Maey Petkuq Mehuey Keldung Laas Wehea (kami akan menjaga hutan lindung Wehea) karena tak ingin ada bencana alam yang bisa menimpa dan merusak desa kami seperti di daerah lain di Indonesia," tutur Ing. Masyarakat Suku Wehea percaya, jika mereka bisa menjaga hutan dengan baik, bencana tak akan timbul.
Dia berkata begitu, lantaran sepanjang tahun 2005, masyarakat Desa Slabing mengalami banjir setinggi dua meter sebanyak 13 kali dalam setahun akibat penggundulan hutan di daerah hulu. Padahal biasanya, dalam lima tahun baru terjadi banjir. Tak ingin ada bencana alam yang lebih parah, mereka bersedia dan mendukung upaya BP Huliwa (The Nature Conservancy bekerjasama dengan Pemkab Kutim membentuk BP Huliwa) untuk menjadikan Huliwa sebagai kawasan konservasi, ekowisata, dan sarana pendidikan serta penelitian.
Saking seriusnya Suku Wehea menjaga hutan, mereka juga membuat SK Adat yang menjatuhkan denda kepada pelaku pengrusakkan hutan di kawasan Huliwa seperti menebang pohon atau memburu binatang di sini. "Sejak dulu kami hidup dari alam, jika hutan habis dan rusak, bisa-bisa kami tak punya tempat tinggal dan mencari makan di sini lagi," tandas Ing yang berusia 40 tahun ini bijak. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home