Friday, May 12, 2006

Menjelajahi Hutan Lindung Wehea (I)


Huliwa di antara Sungai Skung dan Metgueen

Sekitar 38.000 hektare (ha) wilayah eks HPH PT Gruti III telah ditetapkan sebagai kawasan Hutan Lindung Wehea (Huliwa) melalui SK Bupati Kutim No 299/02.188.45/HK/IX/2004. Daerah tersebut layak dilestarikan lantaran Huliwa merupakan pelindung dan penyangga stabilitas hidrologi sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Seleg, Melinyiu, dan Sekong yang merupakan bagian hulu Sungai Wahau, salah satu sungai penting di Kabupaten Kutim. Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, di mana berbagai habitat satwa langka dan tetumbuhan terdapat di sini. Beberapa hari yang lalu, saya bersama The Nature Conservancy (TNC) dan Radio Gema Wana Prima (GWP) atas undangan Badan Pengelola (BP) Huliwa Pemkab Kutim, Provinsi Kaltim, menjelajahi Huliwa selama dua hari satu malam untuk melihat lebih dekat keadaan di sana.

PERJALANAN udara sengaja saya ambil dari Balikpapan menuju Sangatta, ibukota Pemkab Kutai Timur, untuk menyingkat waktu. Pasalnya, jika naik travel lewat jalan darat, butuh waktu hingga tujuh jam, sedangkan pesawat hanya membutuhkan waktu antara 30-45 menit saja. Saya berangkat dengan menumpang pesawat kecil milik PT KPC dari Bandara Sepinggan ke Bandara Tanjung Bara. Untungnya saya berhasil membeli tiket PP Rp 900 ribu sehari sebelumnya untuk penerbangan keberangkatan Sabtu pagi. Biasanya, seat yang tersedia sudah penuh dan pesawat berkapasitas sekitar 20-an penumpang itu tak boleh untuk umum. Hanya pegawai KPC dan perusahaan kontraktornya yang boleh menumpang pesawat itu. Untungnya lagi, saya bekerja di media massa yang punya cukup pengaruh di Kaltim, jadi urusan menumpang pesawat pun lancar hehehe, meski saya dapat jam berangkat sangat pagi, pukul 06.00.

Kendati sudah dari subuh saya bersiap-siap berangkat, tetapi tak urung saya cemas juga melihat jam di mobil telah menunjukkan waktu pukul 05.50. Deg-degan takut ditinggal, soalnya pesawat itu sangat dikenal on time. Ketika memasuki bandara, ternyata petugas pesawat DAS sudah melongok-longok dan segera menyebut nama saya begitu saya datang. "Segera Bu, soalnya lima menit lagi kita berangkat," ucapnya. Syukurlah, hampir saja. Bawaan saya tak banyak, hanya satu ransel berisi pakaian dan peralatan mandi plus sack bag yang berisi peralatan tulis dan kamera.

Tak seperti menumpang pesawat komersial lainnya yang besar dan nyaman, di sini kita harus menutup telinga dengan headphone atau earphone karet yang diberi petugas DAS saat masih di bandara. Suaranya sangat bising, bahkan setelah memakai penutup telinga pun suara deru mesin pesawat masih kedengaran. Saya pun berharap agar perjalanan itu bisa cepat sampai. Sempat istirahat sehari di Sangatta di sekretariat TNC-BP Huliwa di Komplek Perumahan Panorama, Swarga Bara dan esoknya kami harus berangkat pagi-pagi sekali.
Perjalanan dari Sangatta menuju Huliwa ternyata lumayan melelahkan. Butuh waktu sekitar delapan setengah jam dengan mengendarai mobil dobel gardan Strada Ranger untuk menempuh jarak sepanjang 292 km. Sejak pukul 07.30 rombongan yang terdiri dari TNC yaitu Taufik Hidayat, Analiza Chaniago, Nela Mariana, Christian Djoka dan Syahroni, kemudian penyiar GWP Yopi Al Juhri dan saya meluncur dari sekretariat TNC. Baru satu jam berjalan, kami harus berhenti di wilayah Bengalon untuk mengisi perut. Pasalnya, "kampung tengah" terasa tak nyaman alias mual karena perut kosong. Selama satu jam sarapan, kami langsung tancap gas menuju Huliwa. Tetapi belum lagi matahari tepat di atas kepala, kami harus singgah kembali di Pasar Baru, Satuan Pemukiman IV (kawasan transmigrasi) di Kecamatan Kombeng untuk berbelanja beberapa keperluan selama di hutan. Lantaran masih kenyang, kami tak jadi makan siang di rumah makan yang kami singgahi, hanya membungkus nasi untuk makan di tempat tujuan. Rombongan berkurang satu karena Taufik harus pergi ke Desa Nehes Liah Bing bertemu warga desa. Selepas pukul 13.00, kami kembali melanjutkan perjalanan, tujuannya langsung ke Huliwa. Selama hampir tiga jam berjalan, medan yang kami lalui lumayan berat. Pasalnya, akses jalan yang harus ditempuh hanya melewati jalan logging yang tentu saja kondisinya sangat "off road" sekali.
Kadang, jalanan begitu sempit sehingga sisi kanan-kiri badan mobil harus berpapasan langsung dengan dahan-dahan pohon yang menjuntai lebat. Tak hanya itu, di dalam mobil, kepala sering terantuk dengan tempat pegangan di sisi kanan atas jendela dalam karena kendaraan kerap miring beberapa derajat saat melewati jalanan yang becek dan mempunyai cekungan dalam. Untungnya, perjalanan tak membosankan sebab di dalam mobil kami terhibur dengan canda tawa. Terlebih, ketika mata tak bisa lagi merem lantaran guncangan mobil melihat pemandangan sekitar. Ketika ranger berhenti di sebuah tanah yang cukup datar dan lapang, kami sempat melihat "pintu gerbang" Huliwa yang ditandai dua patung dari kayu ulin dan papan bertuliskan Lembaga Adat Desa Nehes Liah Bing kawasan hutan dengan tujuan khusus perlindungan hutan dan habitat orangutan. Demi mentahbiskan hutan menjadi kawasan lindung masyarakat adat Dayak Suku Wehea membuat upacara adat pada 6 November 2004. Mereka sepakat memberi nama Letaah Las Wehea Long Skung Metgueen yang berarti kawasan Hutan Lindung Wehea yang berada diantara sungai Skung dan Sungai Metgueen. Seketika udara segar menyergap hidung kami, bau hutan terasa khas, apalagi tatkala kami tiba di lokasi camp I, di mana kami akan menginap semalam. Bivak segera didirikan, benar-benar seperti tenda darurat. Beratapkan terpal plastik dengan dipan dari papan yang dialasi matras dan kantung tidur (sleeping bag). [tre]

2 Comments:

Blogger Chris Djoka said...

mantap mbak, kapan lagi nih mo maen ke wehea lagi? yang pasti sudah tersedia beberapa fasilitas penginapan yang memadai....

5:59 PM  
Blogger Chris Djoka said...

mantap, kapan akan maen lagi ke wehea? saat ini di wehea telah tersedia beberapa fasilitas pendukung, sehingga dapat menampung kunjungan tamu maksimal hingga 20-30 orang.

6:03 PM  

Post a Comment

<< Home