Sunday, May 07, 2006

Menyusuri Taman Wisata Laut Derawan (1)

Tak Sekedar Mendengar Cerita Penyu
Keanekaragaman hayati di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kaltim sungguh sangat menakjubkan. Dikenal sebagai jantungnya coral triangle di dunia, Derawan memiliki sekitar 460-480 jenis spesies karang keras dan 1.051 spesies ikan. Selain itu, di Kepulauan Derawan juga merupakan lokasi bertelur bagi penyu hijau Chelonia mydas di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, sehingga kawasan ini menjadi prioritas bagi konservasi penyu. Tetapi sayangnya beberapa kegiatan seperti pengeboman ikan, penangkapan ilegal, dan pencurian telur penyu dan penyu merupakan penyebab rusaknya ekosistem laut.

KEINDAHAN Kepulauan Derawan serasa begitu dekat di depan mata. Padahal, perjalanan belum lagi dimulai. Kami masih berada di Bandara Sepinggan Balikpapan. Dipandu Senior Technical Advisor Dr Budi Wiryawan, dan Program Koordinator M Khazali Harahap yang berasal dari Mitra Pesisir Kaltim-Berau, kami menunggu pesawat kecil Trigana Kalstar yang akan membawa kami ke Kabupaten Berau.

Tepat pukul 11.00 kami sudah berada dalam lambung pesawat. Perjalanan dengan udara hanya memakan waktu sekitar satu jam, pukul 12.10, pesawat telah mendarat di bandara perintis Kalimarau. Alih-alih ingin cepat sampai di Pulau Derawan, ternyata kami harus rehat dulu untuk makan siang bersama dan diskusi kecil tentang Kepulauan Derawan agar kami punya bayangan keadaan di sana. Dan bayangan yang tercetak langsung di benak kami tanpa harus berpikir dua kali adalah: keindahan dunia bawah laut.
Pukul 16.00, kami menuju Pulau Derawan dengan speed berkekuatan mesin 115 PK dengan jumlah penumpang 12 orang. Sungai Segah, merupakan awal speed melaju sebelum menuju laut lepas. Di antara deru mesin dan debur ombak, kami menikmati pemandangan sekitar. Hijaunya hutan mangrove yang lebat dan beberapa bekantan yang bercengkrama menjadi pemandangan unik yang langsung bisa dinikmati. Habitat monyet-monyet bule yang bernama latin Nasalis larvatus memang masih banyak terdapat di sini. "Hutan mangrove di Kabupaten Berau masih cenderung bagus, ada sekitar 49 ribu hektare yang jadi kawasan konservasi," tutur Budi.
Selama dua setengah jam kami dibuai ombak, diusai senja, terlihat titik-titik cahaya dari jendela kapal speed. "Selamat datang di Pulau Derawan," kata Khazali. Saat itu yang kami lihat hanya siluet bangunan-bangunan kayu dan pohon kelapa yang menjulang. Kegiatan sesungguhnya memang baru akan dimulai esok hari, tetapi kami beruntung bisa melihat penyu bertelur di pulau ini. Saat pasang, sekitar pukul 19.30-05.00 penyu biasanya naik ke daratan untuk mencari tempat bertelur. Malam itu sekitar pukul 20.30 kami menyusuri dataran pasir di wilayah resort milik PT Bumi Manimbora Interbhuana.
Di cekungan pasir, kami melihat seekor penyu yang tampak bergeming digelapnya malam. "Setengah jam yang lalu ia naik dan mencari tempat untuk bertelur," ujar Ketua Masyarakat Pelaksana Konservasi Pulau Derawan, Kecamatan Pulau Derawan Mursalin. Malam itu hanya satu penyu yang naik, biasanya kadang ada beberapa penyu yang naik ke darat untuk bertelur. Menurut Mursalin, penyu yang bertelur ini merupakan penyu yang sudah ditagging (diberi tanda berupa nomor yang terbuat dari besi putih). Di tangan kanannya, terlihat sebuah nomor 001.
"Awal dilakukan tagging di sini tahun 1997, tetapi yang naik ke sini kadang-kadang juga ada penyu yang belum mempunyai tagging," ucap Mursalin yang sudah aktif menjaga kawasan penyu bertelur sejak tiga tahun silam ini. Diawal bulan April, sudah ada lima penyu yang naik dan bertelur semua. Penyu 001, begitu kami menyebutnya, diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun, memiliki karapas (tempurung) berwarna kelabu gelap dengan panjang 1,12 meter. Sekitar dua jam ia bertelur, menghasilkan 131 butir. Tak seperti telur hewan lainnya yang memiliki cangkang keras, kulit telur penyu sangat lentur dan liat.
Usai si 001 bertelur, ia menyibakkan pasir di sekitarnya hingga berhamburan ke atas. "Setelah bertelur, penyu selalu mandi dengan menghamburkan pasir ke atas. Cara ini dilakukan untuk mengelabui hewan lain dengan menutupi telurnya," terang Biological Monitoring Officer TNC-Joint Program Katherina. Setelah itu, penyu langsung kembali ke laut untuk kemudian bermigrasi ke samudera lain.
Saat ini, populasi penyu di Indonesia dan seluruh dunia terancam punah. Secara alami, penyu memang memiliki peluang hidup yang rendah. Meskipun jenis ini mampu bertelur dalam jumlah banyak, predator alami terhadap telur dan tukik (anakan penyu) ternyata sangat banyak, mulai dari kadal, biawak, tikus, kepiting, berbagai spesies burung laut, hingga berbagai jenis ikan karnivora. Manusia pun sering memanen telur penyu untuk dikonsumsi.
Keprihatinan ini pun dirasakan Mursalin. "Kadang penyu hijau dewasa sering diburu untuk diambil daging, sedangkan penyu sisik sering diambil karapasnya untuk hiasan. Kami juga sering menemukan penyu yang mati terjerat jaring penangkap ikan, dan pantai berpasir tempat penyu bertelur banyak yang telah hilang atau rusak karena digunakan untuk berbagai kepentingan manusia," ungkapnya. Padahal, ia dan warga Pulau Derawan yang telah sadar akan pentingnya keberlangsungan hidup penyu berharap, generasi setelah mereka tidak hanya mendengar populasi penyu. Ia menginginkan, di masa depan, anak cucunya juga bisa melihat penyu, tak sekedar menjadi cerita belaka. Karena itu, ia berharap kepada banyak pihak agar bisa berbuat lebih demi kelestarian penyu.
[tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home