Sunday, May 07, 2006

Menyusuri Taman Wisata Laut Derawan (2)

Pulau Derawan, Jantungnya Coral Triangle
KETIKA pagi menjelang, saat matahari terbit di ufuk dan menyibakkan awan kelabu yang menghalang, kami baru bisa melihat keindahan Pulau Derawan yang memiliki luas sekitar 40 hektare (jika surut bisa mencapai 48 ha). Air laut yang berwarna keemasan tampak berpendar. Ketika matahari mulai meninggi, barulah terlihat dengan jelas pemandangan Pulau Derawan. Pasir pantainya yang putih, air laut yang bening dan mempunyai gradasi warna yang cantik, warna hijau-biru muda-biru tua dibingkai dengan jajaran pohon kelapa yang langsing menjulang.

Populasi penduduk di pulau ini cukup padat, ada sekitar 400 Kepala Keluarga atau 1.200 jiwa. Kebanyakan mata pencaharian penduduk adalah nelayan, sebagian lagi menyewakan rumahnya menjadi losmen-losmen kecil bagi para wisatawan yang berkunjung. Tarifnya rata-rata Rp 60 ribu semalam plus sarapan pagi dengan menu nasi goreng telur mata sapi. Kalau mau yang mewah, bisa juga menginap di resort milik Bumi Manimbora Interbhuana. Saat kami berkunjung, banyak wisatawan asing dari Prancis yang bertandang ke sana. Passe des vacances, kata mereka.

"Di sini memang lebih banyak turis asing yang datang dibanding lokal. Soalnya Pulau Derawan, Sangalaki, Semama, Maratua, dan Kakaban memang yang dilihat bawah lautnya, jadi harus snorkeling atau scuba diving. Yang senang wisata seperti itu kan turis manca," ujar Katherina, yang mendampingi kami selama tiga hari. Sedangkan turis lokal, biasanya hanya melihat-lihat atau berjalan-jalan di daratan saja. Menurut dia, perairan pulau-pulau itu terdapat lebih dari 30 tempat penyelaman, dan di kedalaman bawah laut, terdapat 460-480 jenis spesies karang keras dan 1.051 spesies ikan. Tak heran jika perairan Pulau Derawan dikenal dengan sebutan jantungnya coral triangle, pusat keanekaragaman hayati di dunia.

Menurut Audrie J Siahanainenia, Coordinator Monitoring and Surveillance WWF, keempat pulau yang disebutkan itu kini telah masuk dalam program kelautan bersama yang disebut dengan Kegiatan Konservasi Laut (KKL) Berau yang dilakukan secara join program antara Pemkab Berau, World Wild Fund (WWF), Mitra Pesisir Kaltim, dan The Nature Conservancy (TNC). "Program ini pertama kali di Indonesia yang meiputi kewenangan kabupaten dan provinsi. Sifatnya non taman nasional sebab kami tak ingin program ini seperti taman nasional di atas kertas tapi kenyataannya tidak. Nantinya, kelembagaan ini akan menetapkan zonasi sesuai kondisi dan potensi alam," terang Audrie.

Ternyata, keindahan tak hanya milik Derawan, pandangan takjub tak henti-henti menghampiri kami. Setidaknya begitulah yang kami lihat saat tiba di Pulau Maratua setelah melakukan perjalanan sekitar 50 menit dari Pulau Derawan dengan speed. Dari kejauhan dibeningnya air laut, sepintas terlihat bulatan hitam yang membesar, tetapi ketika didekati, ternyata ikan yang berwarna abu-abu kehitaman yang sedang berenang. Tak ayal, pemandangan tersebut menjadi sasaran bidikan kamera.

Sekitar dua jam kami berada di pulau ini, karena tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Kakaban lantaran air sedang surut. Sembari menunggu air pasang, kami sempatkan menengok kondisi perkampungan di Pulau Maratua. Ada empat desa di sini yaitu Desa Teluk Harapan, Payung-payung, Bohesilian, dan Teluk Alulu dengan Kecamatan Maratua.

Desa Teluk Harapan berada di mulut Pulau Maratua. Kondisi pemukiman di sini tampak lebih buruk jika dibandingkan Pulau Derawan. Rumah berdinding kayu, beratap seng, dan tidak ada aliran listrik dari PLN maupun PDAM. "Kalau dulu untuk dapat listrik biasanya ada beberapa warga yang pakai genset, tetapi sejak beberapa tahun lalu, kami dapat LTS (Listrik Tenaga Surya-red), bantuan dari pemerintah pusat," tutur Mubiyono, warga desa yang juga Kepala Sekolah SDN 007. Ia menambahkan, kendati belum semuanya bisa menikmati LTS, tetapi sebagian besar sudah, dari 169 KK yang ada, sudah 111 KK yang bisa menikmati LTS. Tiap LTS yang dipancang di atap rumah penduduk, hanya bisa mengalirkan arus listrik 30 watt.

Sedangkan untuk air bersih, penduduk harus menggali sumur. Beruntung, air di sini tidak asin sehingga layak dikonsumsi untuk mandi, cuci, dan keperluan memasak. Bahkan, jika kemarau panjang, tiga desa lainnya di kecamatan ini berbondong-bondong untuk mengambil air bersih dari sini. "Karena itu desa ini kita namakan Teluk Harapan," imbuhnya. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home