Sunday, May 07, 2006

Menyusuri Taman Wisata Laut Derawan (3)

Melihat Dunia Nemo
SEEKOR ikan kecil
menyembulkan tubuhnya di balik terumbu karang, lantas berenang mengitari ganggang. Tak jauh dari situ, segerombolan ikan tambun berenang beriringan dengan kompak. Kendati dibuyarkan, dengan serta-merta mereka membentuk barisan utuh dan dengan konstan bergerak maju mundur. Warna biru, kuning, dan merah muda memantul di kaca mata masker seolah memanggil kita untuk menyusuri keindahan laut lebih dalam.

Sekilas, ingatan langsung melayang pada sebuah film kartun besutan Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studio, Finding Nemo yang menggambarkan kehidupan dunia bawah laut. Jika difilm kartun, gambaran itu jelas tidak nyata alias khayalan, tak begitu halnya dengan yang kami lihat di dalam Danau Kakaban, Pulau Kakaban dan perairan Pulau Sangalaki. Sungguh fantasi indah yang dapat dilihat, disentuh, dirasakan, dan dikenang kemudian.

Menyusuri dunia bawah laut walau masih di permukaan alias snorkeling, membuat hati terus tergetar karena keindahannya. Seruan takjub tak berhenti keluar dari mulut kami, yang notabene baru sekali melaut dan berenang dengan akrab bersama penghuni laut. Terasa, keindahan sempurna yang sementara ini baru bisa kami saksikan.

Hari kedua berada di Pulau Derawan, merupakan hari terasyik yang bisa kami nikmati. Belajar snorkeling dengan memakai masker dan fin (sepatu bebek). Awalnya, kami sempat kesulitan menggunakan masker, maksudnya bernapas dengan mulut melalui selang masker. Kebiasaan menghirup udara dari hidung terus terbawa sehingga membuat kami terbatuk-batuk dan terminum air danau dan laut yang sungguh asin. Tetapi itu tak berlangsung lama, setelah mahir mengenakan alat tersebut, kami justru tak mau menyudahi acara bersnorkel.

Setelah dari Pulau Maratua, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kakaban yang juga masuk dalam wilayah konservasi. Danau Kakaban merupakan salah satu dari dua danau berair asin yang terdapat di dunia, yang lainnya berada di Danau Palau, Republik Palau, sebuah negara yang terletak didekat Papua. Perjalanan tak memakan waktu lama, sekitar setengah jam kami lampaui dengan speed. Tetapi Danau Kakaban lebih unggul dibanding Danau Palau karena memiliki empat jenis spesies ubur-ubur atau jelly fish yaitu Cassiopea ornata, Mastigias papua, Aurelia aurita, dan Tripedalia crystopora.

"Biasanya, kalau kita bersentuhan dengan ubur‑ubur, kulit kita akan terasa gatal. Tetapi empat jenis ubur‑ubur ini tidak, karena mereka tidak punya musuh sehingga tidak memberikan serangan dari racunnya. Itu yang kami sebut unik, spesies di sini lebih banyak dibanding di Danau Palau," terang Budi Wiryawan, Senior Technical Advisor Berau dari Sekber antara Mitra Pesisir‑TNC‑WWF‑Pemkab Berau yang memberikan keterangan singkat tentang habitat kehidupan bawah laut saat kami masih di Tanjung Redeb.

Sebelum tiba di danau, kami harus melewati jembatan ulin terlebih dahulu untuk sampai ke lokasi. Lumayan sulit, karena kami harus menanjak baru kemudian turun. Yang membuat repot, jembatan ulin tersebut sudah banyak yang lapuk, sehingga kami harus berhati‑hati, kalau tidak, bisa terperosok ke dalam jurang. Namun, perjalanan itu tak seberapa dibanding hasil yang kami nikmati kemudian. Perasaan kami luar biasa bungah melihat pemandangan sekitar, danau yang membentang dengan tenang dan dikelilingi lebatnya hutan mangrove dengan gradasi warna yang menakjubkan.


Tetapi menurut Katherina yang menjadi pemandu kami, pemandangan di situ belum seberapa. "Di perairan Pulau Sanglaki, kita bisa ketemu dengan ikan mantai rai, bahkan berenang bersamanya," ucap dia. Ikan mantai rai, sejenis ikan pari yang memiliki kedua sirip yang lebar seperti sayap dan ekor panjang. Di sana juga lebih banyak terdapat spesies ikan yang berwarna-warni, dan tentu saja penyu hijau, yang mungkin usianya sudah seratus tahun lebih. Penasaran dengan perkataan Katherina, kami hanya berenang selama satu jam, kemudian kami langsung pergi ke Sangalaki, pulau yang juga menjadi kawasan konservasi.

Benar saja, ketika kami berenang di perairan Pulau Sangalaki kami seolah menonton film Finding Nemo jilid kedua (kalau memang ada), sebab keanekaragaman hayati yang digambarkan Andrew Stanton dan Lee Unkrich masih kalah bervariasi dibanding di sini. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home