Tuesday, May 09, 2006

Menyusuri Taman Wisata Laut Derawan (4)

Program KKL untuk Menjaga Kelestarian Alam
Keindahan dan kekayaan ekosistem pesisir di Kepulauan Derawan, kadang bisa menjadi bumerang jika ternyata tak mampu dijaga dengan baik. Kekayaan tak hanya sebagai anugerah, tapi bisa menjadi bencana jika terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, penyu hijau, paus, lumba-lumba, dan spesies langka lainnya tidak dilindungi. Saat ini, keasrian alam Kepulauan Derawan dan sekitarnya memang masih terbilang relatif bagus, tapi siapa yang bisa menebak kondisi itu akan tetap bertahan dalam hitungan waktu ke depan? Dari pengamatan saya selama beberapa hari di sana, ternyata Kepulauan dan Perairan Pulau Derawan menyimpan potensi konflik yang jika tidak diantisipasi segera akan menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan masyarakat nelayan sendiri.

DARI tahun ke tahun, degradasi alam semakin meningkat baik secara alami maupun campur tangan manusia. Tanpa dijamah, abrasi pantai akan terjadi karena proses alam. Tetapi dengan adanya campur tangan manusia, dapat dipastikan laju kerusakan dapat semakin tak terbendung. "Beberapa nelayan bahkan sudah mengeluh karena tangkapan ikan mereka jauh berkurang hingga 60 persen sejak 10 tahun terakhir ini," terang Program Coordinator Berau-sekretariat bersama (sekber) Khazali Harahap. Hal itu terjadi akibat penggunaan pukat harimau, potasium, trawl atau alat tangkap ikan lainnya yang merusak ekosistem di laut, tak terkecuali terumbu karang yang menjadi rumah ikan.

"Pada saat mereka menangkap ikan dengan cara seperti itu, hasilnya memang lebih banyak dibanding menangkap ikan secara alami, tetapi karena terumbu karang juga rusak sehingga ikan-ikan yang terdapat di perairan tersebut otomatis berkurang," ungkap Khazali. Akibatnya, nelayan harus lebih jauh melaut untuk menangkap ikan dan ini tentu saja menjadi tak efisien lantaran biaya operasional kapal nelayan menjadi membengkak yang akhirnya berimbas pada pendapatan nelayan.
Menyadari hal tersebut, Pemkab Berau bersama Mitra Pesisir Kaltim, WWF, dan TNC yang tergabung dalam sekber membuat program Kawasan Konservasi Laut (KKL). Tujuannya tak lain, melindungi daerah pesisir dan perairan dari ancaman kerusakan karena ulah tangan manusia. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan sebab beberapa waktu lalu, banyak terjadi perikanan ilegal, pencurian penyu dan eksploitasi telur penyu.
Menurut Marine Policy Coordinator Sekber Handoko Adi M Sc, mereka telah membuat rencana program mulai tahun 2004-2008. Di dalamnya, terdapat pendidikan lingkungan dan pengembangan kawasan pesisir dan laut bagi masyarakat setempat. "Saat ini kami tengah mendesain dan merencanakan zonasi. Nantinya ada zona batas terluar, zona pemanfaatan sumber daya alam, dan zona inti. Dari batasan zona tersebut, masyarakat akan tahu mana daerah yang boleh menangkap ikan dan mana yang tidak karena digunakan sebagai zona inti atau areal konservasi," terang Handoko.
Program KKL ini memang awalnya digagas sekber, tetapi selanjutnya peran masyarakat setempat yang diharapkan meneruskan kegiatan ini. "Kami hanya fasilitator yang memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya kelestarian itu, untuk waktu ke depan merekalah yang menjaga kenakeragaman hayati yang mereka miliki sekarang," papar Handoko.
Putihnya pasir pantai, beningnya air laut, berwarnanya terumbu karang dan berbagai jenis ikan memang indah dipandang. Sejatinya, kekayaan itu bisa menjadi kebanggaan masyarakat setempat dari dulu, sekarang, dan juga nanti. Tampaknya kebijakan pemerintah setempat bersama stakeholder dan kearifan budaya masyarakat yang bisa menjawabnya kemudian. Apakah keanekaragaman hayati dunia bawah laut di Kepulauan Derawan dan sekitarnya masih menjadi yang terbaik di dunia atau sebaliknya. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home