Friday, September 15, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (2)


Berburu Durian Sampai Pelosok

MUSIM durian, memang satu musim yang paling indah dan menyenangkan ketimbang musim hujan atau kemarau. Setidaknya, begitulah pendapat kami dalam perjalanan kali ini. Sepanjang perjalanan, melalui kaca jendela mobil yang lumayan berdebu, mata selalu menjadi tajam jika di tepi kanan kiri jalan teronggok sekumpulan buah durian. Kadang, mobil yang telah melaju beberapa meter, harus kembali mundur hanya untuk menawar dan membeli durian.

"Sebelah kanan itu apa," teriak Aldrin yang kompak disertai putaran kepala dan pandangan mata. Seketika senyum sumringah langsung terpasang di wajah kami ketika melihat bulatan-bulatan berduri tajam seukuran kepala manusia dewasa. Di antara durian biasa yang kerap kami temui, ada durian hutan--disebut krantungan-- yang sangat sulit ditemui di kota. Perbedaannya tipis saja, duri krantungan pada kulit lebih panjang, tajam, dan runcing. Jika durian biasa mempunyai beberapa bilah, krantungan hanya sekali dibelah tengah dan buahnya hanya berjumlah sekitar enam yang terbagi dua karena belahan di tengah tadi. Rasanya lebih manis, dan harganya sedikit agak tinggi dibanding harga durian biasa. Maklum, agak langka karena hanya berada di hutan.

Berjam-jam kami berburu durian, setidaknya mulai dari pukul tiga sore hingga menjelang maghrib. Dari satu pelosok desa ke desa lain, bahkan hingga kebun pun kami jelajahi. Kalau perlu jika di tengah jalan ada penduduk desa yang membawa keranjang bambu khas Suku Dayak (anjat), mereka pasti akan dicegat untuk melihat apa isi di dalam anjat. Jika durian, pastilah langsung ditanya, "Dijualkah Bu duriannya?" Kalau mereka mengangguk, lantas terjadilah tawar-menawar harga. Tentu saja harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan durian kota. Kami terkaget-kaget, bahkan kadang heran mendengar harga yang sangat miring sekali. Untuk durian berukuran sedang, harga berkisar Rp 2.000-3.500; yang agak besar biasanya Rp 4.000-5.000; dan paling besar (dua kali ukuran sedang) Rp 7.000-. Seketika benak kami langsung membandingkan harga durian di kota yang berukuran kecil dan rasa belum tentu manis dengan harga paling minim (itu pun jika beruntung pandai menawar) Rp 5.000-.

Lantas, apa yang terjadi? Kami semakin bersemangat memburu durian untuk memenuhi bak belakang mobil ford ranger. Desa Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok tak luput dari incaran mata-mata penggemar berat durian. Bahkan Ilin, seorang ibu yang habis pulang dari kebun menjadi incaran kami untuk menunjukkan kebun duriannya. "Kalau mau, saya kasihkan saja tidak usah bayar, tapi ambil sendiri duriannya dari pohon," tuturnya melihat kami yang sangat antusias berburu durian layaknya seorang punggawa (tengkulak) yang akan menjual kembali buah itu ke kota. Untungnya, (atau malah rugi?) tak ada seorang pun dari kami yang nekat memetik sendiri, mungkin juga malas, atau malah tidak bisa.

Menjelang senja yang tak nampak karena tertutup pucuk-pucuk pohon durian yang menjulang, kami mulai letih berburu. Bak mobil telah penuh dengan ratusan buah. Tetapi entah kenapa, buah yang teronggok di teras rumah penduduk, selalu punya daya tarik untuk didatangi. "Kayaknya cukup, tapi coba siapa tahu mereka mau dibeli dengan harga Rp1.500, kita ambil," ujar seorang teman berseloroh. Untung saja tidak dapat, kalau ya...tidak terbayang akan ditaruh di mana lagi. Kali ini, kiasan bagai mendapat durian runtuh tampaknya bukan sekedar rangkaian kata konotatif alias isapan jempol belaka. [tre]
wrote on February, 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home