Friday, September 15, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (3)


Jejak Sejarah di Geleo Baru dan Tanjung Sokek

BANGUNAN itu masih berdiri kukuh, walau umurnya sudah lebih dari setengah abad. Dinding, lantai, dan undakan tangga terbuat dari kayu meranti, sedangkan tiangnya terbuat dari kayu ulin. Dari atap sirap yang tak rapat lagi, seberkas sinar matahari sore menyelusup masuk memberikan sedikit penerangan di dalam ruangan Lamin Adat yang dibangun sejak tahun 1952. Tampak beberapa patung khas Suku Dayak Luangan menghiasi ruangan tersebut. "Untuk mengusir roh-roh jahat," ucap Antonius K, Wakil Kepala Adat Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barongtongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Dengan panjang bangunan sekitar 50 meter dan lebar 20 meter, ruangan ini mempunyai enam bilik atau kamar. Menurut Antonius, Lamin Adat ini dulunya merupakan tempat tinggal petinggi desa atau kepala desa yang bernama Y Tangkas bersama keluarganya. Tetapi sejak tahun 1960-an, lamin tak didiami sebagai tempat tinggal, ia beralih fungsi menjadi tempat upacara adat bagi warga kampung. Seperti Kuangkai (upacara adat kematian untuk seorang anggota keluarga yang paling disayang), Belian (untuk membayar nazar atau penyembuhan orang sakit), dan Peruru (perkawinan adat).

Dengan jumlah penduduk 300 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 600 jiwa, sebagian besar penduduk bermata pencaharian petani karet dan buah. "Kalau pencaharian utama ya getah karet, kalau yang buahnya seperti durian itu hanya musiman saja dijual," kata Antonius.

Situs sejarah walau belum berumur sangat tua, juga terlacak jejaknya di Desa Tanjung Sokek, Kecamatan Bongan, Muara Kedang. Di sebuah tanah lapang di desa tersebut, terdapat kumpulan patung yang terbuat dari kayu ulin. Blontangan yang digunakan untuk mengikat hewan kurban pada perayaan upacara, dan kerering, semacam nisan untuk makam keturunan raja dari Suku Dayak Luangan (campuran Suku Dayak Bentian dan Pasir). Menurut Kepala Desa Tanjung Sokek Atumsyah O, warga desa kerap melakukan upacara adat di sini. Semisal Erau, perayaan tahun baru, dan Belian. "Hewan kurbannya kerbau, karena itu yang dipelihara warga di sini," ujar Atumsyah.

Pada blontangan, tinggi patung sekitar tiga meter yang berukiran vertikal, menggambarkan manusia dan hubungannya dengan binatang. Di atas kepala orang terdapat kucing, di pinggangnya terkempit babi, kemudian di punggung ada anjing, dan terakhir di bawah terdapat kerbau. Atumsyah menceritakan, hewan-hewan tersebut merupakan simbol kehidupan bagi masyarakat Suku Dayak Luangan di Desa Tanjung Sokek. Kucing menjadi hewan peliharaan bagi Suku Luangan dan anjing menjadi penjaga wilayah desa. Sedangkan babi dan kerbau merupakan hewan persembahan kurban. Untuk blontangan sendiri, dulu di desa ini banyak terdapat perajin yang bisa membuat patung khas Suku Luangan. "Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, ini saja untuk blontangan yang baru kami harus membayar orang, upahnya Rp2,5 juta yang dikerjakan selama seminggu," tutur Atumsyah.

Pada kerering, terdapat dua jenis, batang dan tembelak. Untuk batang, pada puncak tiang terdapat kotak persegi kecil sedangkan tembelak, berbentuk kotak panjang. Isi keduanya adalah tulang-tulang manusia yang telah dikubur sebelumnya. Masing-masing kerering berbeda bentuknya, tergantung dari strata orang yang dikubur. Yang paling besar dan tertinggi terdapat tulisan nama Oyok, ia adalah orang yang memimpin desa ini pertama kali, dan ayah dari Atumsyah.

Kata Atumsyah, desa yang berada di tepi Sungai Bongan ini pertamakali dibuka tahun 1960-an. Sebanyak 70 KK datang dari Ulu Mahakam dan Muara Muntai. "Tetapi sekarang penduduk yang ada di desa ini justru berkurang karena terserang wabah penyakit muntaber. Saat ini hanya ada 29 KK atau 146 jiwa," imbuhnya. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home