Friday, September 15, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (4)


Pembalakan Liar, Seperti Gajah di Pelupuk Mata
FORD ranger berjalan zig-zag, tanah merah yang basah karena hujan semalam menempel tebal di keempat roda mobil. Perjalanan yang berat harus kembali kami tempuh, lebih berat dibanding perjalanan awal. Menuju Hutan Lindung Beratus, jalan yang kami lewati hanya satu-satunya karena merupakan jalan logging milik PT ITCI. Kadang, jalan begitu sempit dengan jurang di kanan kiri, kerap juga tanah berlubang begitu besar sehingga membuat celah seperti anak sungai tanpa air dengan dasar yang dalam. Untuk melewatinya, hanya terdapat dua bilah papan terpasang yang berfungsi sebagai jembatan.

Sering kali di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan mobil pick up atau truk yang terperosok karena jebakan tanah becek. Bahkan iringan truk sempat terhenti lama karena ada satu truk yang tak bisa melewati jalanan itu dengan mulus. Melihat truk-truk yang hilir mudik membuat perasaan jadi miris. Dalam hitungan tak lebih dari satu jam, berpuluh-puluh truk yang mengangkut kayu terus melaju dengan bebas. Diperkirakan, satu truk bisa memuat delapan kubik kayu ulin. "Dengan adanya jalan logging yang dibuka PT ITCI, justru membuka akses lebih luas bagi pelaku illegal logging," tutur Analiza, aktivis lingkungan, mantan Outreach Education dari Nature Resources Management (NRM) Kaltim.

Tak bisa dipungkiri, tampaknya kegiatan pembalakan liar begitu nyata di sini. Seperti tak tersentuh hukum. Padahal, dalam lingkup yang lebih luas, janji 100 hari pemerintahan SBY-Kalla adalah pemberantasan illegal logging, yang kemudian diteruskan kepada para menteri terkait seperti Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, juga aparat kepolisian. Bahkan, pada saat kunjungan ke Kaltim Desember tahun lalu, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar menyatakan dengan tegas akan mencopot kapolres yang tidak becus dalam menangani masalah illegal logging dengan batas waktu enam bulan. Saat itu, D'ai datang untuk melihat keberhasilan Operasi Hutan Lestari I Polda Kaltim tahun 2004 yang mendapatkan barang bukti sitaan berupa 107.336,68 meter kubik kayu berbagai jenis dan ukuran, sembilan unit ponton, 12 tug boat, tiga unit kapal, 51 unit alat berat, lima unit mobil, tujuh unit truk, dan empat unit mesin tempel dari total ditemukannya 23 kasus illegal logging di hutan Kelurahan Sotek, Kecamatan Penajam dengan 27 orang sebagai tersangkanya di Kaltim.

Tetapi, di wilayah Kutai Barat ini, terlebih di kawasan hutan yang memiliki status sebagai Hutan Lindung Beratus--didasarkan pada SK Menteri Kehutanan No 321/kpts/Menhut/11/1993 dengan luas sekitar 20.261 ha--selepas mata memandang di kanan-kiri jalan berdiri sejumlah tenda-tenda para pelaku illegal logging. Mereka mendirikan barak secara berkelompok, dan bekas-bekas penebangan tampak begitu jelas. Hutan gundul, menyisakan gelimpangan kayu-kayu yang menunggu untuk diangkut.

Bahkan, dalam perjalanan kami pun sempat terhenti karena adanya kayu ulin sepanjang lebih dari lima meter dan lebar sekitar 60 cm yang melintang di jalan, bekas ditebang. Terpaksa, kami harus menunggu kayu itu dibelah beberapa bagian agar bisa disingkirkan dari jalan tersebut. Status hutan yang dilindungi, tampaknya hanya ada di atas kertas. Sebab, ia seperti gajah yang tampak di pelupuk mata tapi sulit sekali disentuh. [tre]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home