Friday, September 15, 2006

Menengok Hutan Lindung Beratus (5-habis)

Jimmi yang Takut Bento
KABUT
putih menghalangi pandangan kami saat melihat Gunung Beratus dari kejauhan. Tetapi itu tak berlangsung lama, perlahan kabut mulai menipis dan menegaskan lekuk-lekuk kontur Gunung Beratus yang tampak berwarna biru keabu-abuan. Di kaki pegunungan Beratus yang mempunyai ketinggian sekitar 900 m dpl, disitulah letak camp hutan lindung Beratus milik Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Balikpapan yang menjadi tujuan kami. Hawa segar langsung menyergap hidung ketika kaca mobil dibuka. Saat itu pukul 14.30, saat sebenarnya siang memberikan panas yang lumayan menyengat. Tetapi pepohonan menutupi matahari, sehingga hanya terpaan sinarnya saja yang terasa.

Di camp ini, terdapat beberapa penjaga yang mengawasi habitat orangutan yang telah dilepasliarkan BOSF sejak tahun 1998-2002. "Ada sekitar 300 orangutan di sini, semuanya hasil reintroduksi di Samboja Lestari," ujar Herman, staf Geographic Information Systems BOSF. Sebelumnya, di hutan lindung ini memang tak terdapat orangutan, karena itu menjadi tempat yang dipilih BOSF untuk melakukan pelepasliaran. Pasalnya, syarat utama melakukan pelepasliaran adalah tidak ada habitat orangutan sebelumnya.

"Mereka akan kalah dengan orangutan yang telah tinggal sebelumnya, makanya kami harus mencari tempat yang benar-benar kosong untuk me-release (lepasliarkan-red) orangutan baru," tambah Program Manager BOSF Aldrianto Priadjati. Tetapi yang menjadi masalah saat ini, tidak adanya tempat yang aman untuk melepasliarkan orangutan karena kondisi hutan yang semakin rusak. Menurut dia, ancaman terbesar populasi orangutan di Hutan Lindung Beratus sendiri yakni adanya pembalakan dan perburuan liar. Seperti yang kami lihat sendiri ketika melakukan perjalanan menuju ke kawasan ini. Hutan semakin gundul karena adanya penebangan liar dan kondisi ini akan membuat orangutan semakin terdesak karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.

"Populasi orangutan sekarang di Kalimantan tinggal 38.000 ekor saja karena ancaman tersebut. Di BOSF saja terdapat ratusan orangutan yang sebenarnya sudah bisa dilepasliarkan tapi tidak bisa kami lakukan karena tak ada tempat yang aman untuk mereka. Kalau tempatnya habis ya tidak tahu lagi harus ditaruh di mana mereka," terang Aldrin.

Alih-alih ingin disambut sekelompok orangutan ketika kami datang ke camp, ternyata suasana sangatlah sunyi. Pohon-pohon besar yang ada di situ seakan merangkum keheningan. Sungai Bongan membelah hutan menjadi dua, di atas sungai yang membentang, terdapat tali baja dengan sebuah kotak besi yang berfungsi sebagai troli penyeberang. Sementara itu di beberapa pohon besar, terdapat sulur-sulur yang terbuat dari dahan. "Itu sarang orangutan, mereka membuatnya sendiri. Jadi untuk bergerak dari satu pohon ke pohon lain, lewat sulur tersebut. Tidak selalu kita bisa melihat orangutan di sini, sebab mereka sudah menyebar ke dalam, kalau kebetulan mungkin," papar Herman.

Perasaan hati agak kecewa, tapi untunglah tak berlangsung lama. Sebab tiba-tiba, dengan langkah tergopoh-gopoh, datanglah Jimmi, seekor orangutan yang berusia dua tahun. Dengan wajah memelas ia berusaha mendekati kami. Ia celingukan, melihat sesuatu yang mungkin saja bisa dimakan. Tetapi oleh penjaga, Jimmi diusir tak boleh mendekati kami, dan kami pun dilarang pula untuk memberi makanan. "Jika ia dekat dengan manusia dan masih diberi makan, nanti ia tidak mandiri lagi. Sebab, kalau lapar, ia akan terbiasa ke sini, dan itu berarti program pelepasliaran tidak berhasil," tutur seorang penjaga camp. Alhasil, Jimmi hanya berjalan dan duduk dalam jangkauan 10 meter dari kami. Di bawah parabola, ia termangu, kadang-kadang menggaruk-garukkan tangannya yang panjang ke kepala atau badannya. Sesekali menguap, mungkin bosan tidak bisa bergabung dengan kami.

Lantas, Jimmi berusaha mengabaikan larangan penjaga, dengan langkahnya yang lambat, ia berusaha mendekat. "Jimmi ada Bento tuh," teriak penjaga. Sontak, ia mengangkat kedua tangannya, menengok ke belakang tubuhnya, dan berseru khas, "Uueeeghhhhh...," lalu duduk terdiam tak berani mendekat lagi. Siapa Bento? Ternyata nama yang diadopsi dari salah satu judul lagu Iwan Fals ini merupakan nama orangutan yang ditakuti, alias premannya orangutan di hutan lindung Beratus ini. Ada-ada saja, orangutan pun punya jagoan juga rupanya. Kami terkikik geli, sangat lucu menyaksikan tingkah-polah orangutan yang mempunyai tingkat intelegensi tertinggi dibandingkan hewan lain.

Kendati demikian, dalam benak tersimpan pertanyaan, akankah satwa langka primata ini bisa hidup panjang dan berkembangbiak seperti sebelumnya mengingat kondisi hutan lindung Beratus yang semakin rawan? [tre]

wrote on February, 2005.



0 Comments:

Post a Comment

<< Home